Senin, 26 Mei 2014

Percakapan Kami

Pagi itu, embun kembali jatuh pada daun itu,
Daun itu, seperti biasa, menyambutnya, tersenyum dan tertawa bersama embun...
Namun tiba-tiba, embun kembali teringat pada percakapan terakhir mereka,
Meragu...
"Apa? Apa yang membuatmu berpikir bahwa kini kita sama-sama meragu?" tanya embun.
Daun itu tersenyum penuh kasih, mengayun-ayunkan embun seraya berkata, "Kita sama-sama meragu terhadap suatu hal."
"Apa yang sama-sama kita ragukan?"
"Masa lalu embun,"
"Aku tidak mengerti. Bukankah ketika seseorang bisa berbaikan dengan masa lalunya dan memaafkan dirinya sendiri atas kesalahannya dimasa lalu itu berarti ia siap untuk berpindah?"
"Apa yang kamu ketahui tentang 'berpindah'?"
"Kita siap untuk menyayangi orang lain dan memberikan hati kita untuknya," Embun itu tertawa. "melakukan memang tidak semudah berucap."
Daun itu tersenyum melihat embun yang kini mulai mengerti.
Ya..setidaknya kini mereka sama-sama mengerti, bahwa waktu yang akan berkata nanti,
Ya..setidaknya kini mereka sama-sama mengerti, bahwa kini yang mereka perlu lakukan adalah membiarkan semuanya terjadi
Dan ya...setidaknya kini mereka sama-sama mengerti, bahwa kini bahwa yang bisa mereka lakukan hanyalah seperti ini,
Embun yang datang tiap pagi,
Daun itu yang menunggu embun,
Mereka tertawa bersama, saling bertukar cerita, saling memberikan pelukan sebagai semangat, bahkan mereka bisa saling berselisih hingga tidak mau saling berucap...
"Suatu hari nanti, aku akan menghadap surya dan meminta padanya agar kamu selalu jatuh padaku, tidak pada daun lain." ucap daun itu
Embun tersenyum. "Ya, terimakasih karena sudah berniat melakukannya, walaupun aku terlalu takut untuk menganggapnya sebagai janji."

"Satu hal lagi," kata embun. "bagaimana jika suatu hari nanti ada daun lain yang menawarkan kebahagiaan padaku tanpa meragu sedikit pun?"
"Itulah yang akan kamu pelajari embun, dengarkan kata hatimu, maka kamu akan jatuh pada daun yang berani berjuang agar kamu akan selalu jatuh padanya dan dia lah yang akan menjagamu selamanya."
"Relakah kamu meskipun daun lain itu memiliku?"
"Semua hal patut untuk diperjuangkan, tapi bukan untuk dipaksakan."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar