Sabtu, 08 November 2014

TIME

Aku selalu merasa waktu adalah jawaban terakhir dari semua pertanyaan
Aku selalu percaya waktu adalah jawaban terakhir dari semua masalah
Meski aku tidak selalu perlu menunggu waktu untuk menjawab semua pertanyaan dan masalah dalam hidupku…
Namun terkadang, memang dalam beberapa hal, hanya waktu yang mampu menjawab

Kita melihat pelangi yang harus menunggu muncul setelah hujan reda,
Saat itulah aku sadar bahwa waktu pun hadir pada saatnya ia tiba,
Sama seperti melihat awan yang bergerak lamban, kita menunggu untuk tahu akankah awan akan menggumpal ataukah tercerai oleh angin,
Waktu pun seperti itu, bergerak sesuai kemauannya tanpa pernah kita tahu kapan ia akan tiba dalam hidup kita untuk menyelesaikan pertanyaan dan masalah kita,

Aku tidak bermaksud pesimis karena menunggu waktu untuk membantu menyelesaikan masalah,
Hanya saja, aku merasa mungkin kita sudah terlalu lelah untuk mencari, terlalu penat untuk menemukan, hingga kita memasrahkan semuanya pada waktu,
Aku percaya pada waktu, karena waktu tidak pernah sekalipun berbohong,
Kita hanya perlu menunggu, maka waktu akan hadir pada mereka yang sabar,

Maka aku tidak pernah sekalipun mengatakan, “aku akan mencintaimu selamanya” atau “Aku akan membencimu selamanya” atau bahkan “aku tidak akan pernah memaafkanmu selamanya,”
Karena tidak pernah sekalipun aku ingin menentang waktu, waktu adalah bagian dari perubahan, dan satu-satunya di dunia ini yang kekal hanya perubahan. Maka siapa yang bisa tahu esok akan seperti apa?

Hari ini mungkin kita mencintainya, namun siapa yang bisa mengira bahwa esok kita akan membencinya? Atau mungkin sebaliknya, hari ini kita mengatakan bahwa kita tidak akan pernah memaafkannya, namun siapa yang bisa menyangka bahwa esok mungkin kita akan memeluknya dan menangis bersama? 
Meski waktu tidak pernah sekalipun membalas, akan lebih baik jika kita tidak melawan waktu, karena aku percaya waktu selalu membawa segalanya untuk berjalan selaras,

Waktu pun membawa dualitas dalam hidup kita,
Bahagia sedih, menang dan kalah, semua diatur oleh waktu, selalu adil, dan jangan pernah menyangsikan bahwa waktu berlaku curang,
Karena ketika kesedihan memang harus datang, maka kebahagiaan harus dilepaskan,
Pun begitu sebaliknya, maka ketika kita memaksa waktu untuk berpihak pada kita, menggenggam erat kebahagiaan yang seharusnya mulai terlepas dari tangan kita,
Justru kesedihan sendiri yang akan memaksa masuk dengan kejam,

Kita tidak akan pernah tahu esok seperti apa,
Karenanya aku belajar untuk tidak menggantungkan harapan tinggi ku untuk esok hari,
Aku hanya merencanakan, karena selebihnya waktu yang akan menentukan,

Yesterday was a history, today is a gift, and tomorrow will be a mystery
Aku belajar untuk tidak menyesali apa yang sudah terjadi kemarin, aku bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk menikmati hari ini, dan aku belajar untuk tidak mencemaskan hari esok,
Karena hari ini terlalu berharga untuk dihabiskan dengan menyesali apa yang sudah terjadi kemarin, dan mencemaskan apa yang tidak kita ketahui esok.

Ya, waktu mengajarkan ku untuk sabar dan percaya padaNya

Nb. Aku kurang begitu menyukai kata-kata “Aku mencintaimu selamanya” karena seperti seolah-olah ia menentang waktu, bahkan kita sendiri tidak pernah tahu seberapa besar cinta yang kita berikan untuk seseorang hingga bisa disebut selamanya. Karenanya, aku lebih menyukai kata-kata, “Aku mencintaimu, hari ini dan mudah-mudahan sampai nanti”
Jauh terasa lebih ikhlas dan berjalan bersama waktu.

Minggu, 02 November 2014

L.O.V.E part 3 HOME

Aku percaya setiap orang akan menemukan tujuan mereka,
Aku percaya setiap orang akan menemukan rumah mereka,
Aku meyakini bahwa masing-masing dari kita sudah memiliki keterikatan dengan seseorang yang akan menjadi tujuan kita, rumah kita,
Jika bisa aku analogi kan…
Kelingking ini seolah-olah telah terikat seutas benang tipis yang menjalar jauh…sangat jauh entah seberapa panjangnya, entah kemana ujung benang itu bermuara…
Namun aku meyakini satu hal,
Ujung benang yang salah satunya kini terkait di kelingkingku, ujung satunya lagi sudah terikat dengan seseorang…disana,
Kami berdua terkadang berlari, terkadang berjalan karena terlalu lelah berlari, atau hanya sekedar diam untuk menunggu,
Hingga benang tipis di kelingking kami semakin saling menjauh, atau bahkan mungkin semakin mendekat, meskipun sayangnya tidak juga bertemu…
Tak jarang benang tipis ini terlilit, saling bergesekan dengan benang tipis lainnya, namun tidak akan pernah putus, karena aku percaya, waktu akan mempertemukan ujung benang ini dengannya…
Ya, sama sepertiku yang sedang mencarinya, seseorang disana kini tengah berusaha menemukanku…

Dari sekian banyak hal yang bisa disandingkan dengan makna cinta,
Beberapa hari belakangan, aku sering kali menyandingkan “cinta” dengan “rumah”
Melihat seseorang yang sudah berada bersamaku hampir di seperempat abad umurku, kini bersanding dengan seseorang yang dicintainya,
Melihat mereka, membuatku teringat dengan “rumah”
Bahwa cinta tidak selalu mengenai saling memiliki, saling menyayangi dan menghargai,
Namun cinta juga berarti sebagai “rumah”
Dan mereka, sudah menemukan “rumah” mereka,
Seperti seseorang yang berjalan karena sudah terlalu lelah untuk berlari, atau karena ia yang berdiam karena sudah terlalu lelah untuk berjalan, disuatu saat waktu menemukan mereka dengan seseorang yang menjadi “rumah” mereka…
Bahwa seseorang itu akan menjadi tempat yang nyaman untuknya bersandar, menjadi tempat yang akan membuatnya tenang untuk menangis, menjadi tempat yang hangat untuk mereka berbagi,
Namun cinta juga tidak selalu mengenai mereka yang menemukan “rumah”
Bahwa cinta pun harus berarti mereka harus dan mau membangun “rumah” mereka,
Dan dari mereka lah aku belajar,
Bahwa mereka tidak hanya menemukan “rumah” mereka, namun juga membangun “rumah” mereka menjadi suatu pondasi yang kuat untuk mereka jadikan atap bersama…