Selasa, 22 Juli 2014

Hujan Gerimis Pagi Hari

Hujan gerimis pagi ini seakan menghapus keraguan embun
Apa yang dilihatnya,
Apa yang dirasakannya,
Masih sama …

Tatapan daun itu masih menguncinya…
Pelukan daun itu masih untuknya…
Daun itu tidak pernah sedikitpun beranjak dari rasa pertamanya,
Ia masih dan akan selalu ada untuk embun,

Embun itu tidak bermaksud menyangsikan daun itu…
Hanya saja kata-kata bunga jingga masih membekas di hatinya…
Ia merasa rapuh,
Karena apa yang diucapkan bunga jingga ada benarnya,
Ya, memangnya siapa dia?

Namun hujan gerimis pagi ini seakan menghapus kebimbangannya…
Ia memang sekejap hadir dalam hari-hari daun itu…
Namun tidak pernah sekalipun ia meragukan apa yang ia bisa berikan untuk daun itu…
Setitik kesejukannya, tulus ia berikan…

Lagipula, tidak bisakah ini disebut cinta yang tulus?
Karena ia dan daun itu menjalani semuanya dengan sederhana
Bagai kerikil yang hanyut pelan terbawa arus sungai
Lagipula, tidak bisakah ini disebut cinta yang sederhana?
Karena mereka, embun dan daun itu sama-sama belajar mencintai kelebihan dan kekurangan satu sama lain
Dan karena mereka sama-sama belajar untuk setia, menanti, hingga fajar kembali mempertemukan mereka ..


Minggu, 06 Juli 2014

-Suatu Pagi Kata Bunga Jingga Itu-

daun itu tidak selamanya disana menunggumu embun
daun itu tidak selamanya disana menanti kehadiranmu embun
entah karena dia sudah layu dan akhirnya sudah jatuh ke tanah, 
atau ternyata ia lebih bahagia menyambut datangnya hujan ..
dibandingkan dirimu ...

tidak kah kau takut?
bahwa setiap paginya terlintas di pikiran daun itu untuk meninggalkanmu?
tidak kah kau cemas?
bahwa setiap malamnya mungkin ia pernah berencana untuk tidak menunggumu esok paginya?
bahkan tidak kah kau pernah membayangkan?
bahwa bisa saja saat kau berada di pelukannya, hanya raganya saja yang memelukmu namun jiwanya tidak

astaga,
mengapa dirimu merasa begitu berarti bagi daun itu?

memangnya siapa dirimu?,
ragamu hanya sementara di dunia,
dirimu hanyalah buah hati surya yang manja,
yang patuh kapan harus datang, dan tunduk kapan dirimu harus ikut pulang...
kehadiranmu bahkan sama seperti sepoi angin...tidak berarti,
saat kata daun itu dirimu memang sejuk memeluknya,
tahu kah kau betapa jauh menyejukkannya tetesan hujan?
tidak.

apa yang kau ketahui embun?
tahukah kau dengan siapa daun itu menghabiskan siang hingga senja?
bersamaku.
tahukah kau bagaimana daun itu bertahan di terik mentari atau lebatnya badai?
aku tahu.
aku yang selalu di sampingnya, bukan dirimu. aku yang selalu tahu kisahnya setiap hari, bukan dirimu. aku yang tahu bagaimana cerah hijau tubuhnya, bukan dirimu. bahkan aku yang tahu bagaimana pinggirnya mulai cokelat dan mengering, bukan dirimu.

apa kau tahu bagaimana daun itu menghabiskan malam?
menatap langit malam seperti orang bodoh,
bercerita tentangmu kepada bulan dan bintang seperti orang gila,
menantimu hingga fajar menyingsing seperti orang idiot,
seharusnya ia dapat sejenak memejamkan matanya, namun tidak ia lakukan karena dirimu.
memangnya siapa kau?
apa kau tahu bahwa itu adalah sekian kecil dari sekian banyak hal bodoh yang dilakukan daun itu demi dirimu?
apa yang kau tahu memangnya?
disaat daun itu terus menantimu dari fajar hingga senja,
kau sendiri sedang terlelap nyenyak dalam pelukan surya. 
embun manja yang tidak mengenal pahitnya dunia sini, atau bahkan sulitnya perjuangan yang dilakukan daun itu.
demi dirimu...

daun itu tidak selamanya disana menunggumu embun
daun itu tidak selamanya disana menanti kehadiranmu embun
entah karena dia sudah layu dan akhirnya sudah jatuh ke tanah, 
atau ternyata ia lebih bahagia menyambut datangnya hujan...

maka, seharusnya kau takut,
adakah alasanmu untuk merasa berarti bagi daun itu?
tidak.
adakah alasan daun itu untuk tetap bertahan menantimu?
seharusnya tidak.

-Suatu Pagi Kata Bunga Jingga Itu-

Rabu, 02 Juli 2014

Sesaat Setelah Kau Kembali Bersama Surya

Sesaat setalah kau kembali bersama Surya
Mentari mulai terasa menyengat hangat di atasku, aku menengadah dan tersenyum… hari ini cerah…
Gumpalan awan seperti kapas di atas permadani langit, terkadang mereka berkumpul, namun dengan cepat mereka tercerai karena angin…

Sesaat setelah Surya menjemputmu,
Perlahan kehidupan di sekelilingku mulai bergerak
Kicau burung semakin riuh terdengar di telingaku, mereka bersorak girang… hari ini akan banyak biji padi yang akan mereka ambil…
Ikan di kolam teratai pun bergerak lincah, menimbulkan riak-riak kecil…membuatku tidak dapat melihat jelas pantulan diriku di sana

Sesaat setelah kau beranjak dari sisiku
Sepoi angin membuatku berayun pelan mengikuti
Sejuk tetesanmu  masih terasa di sini, meskipun  kau telah kembali
Aku tersenyum, seolah-olah kau masih berada di sini

Sesaat setelah aku tidak lagi merasakan sejukmu…
Cahaya mentari mentari melewati sela-sela tubuhku,
kepalaku kembali menengadah ingin merasakan sepoi angin sekaligus hangat mentari di sepanjang tubuhku
Sedapat mungkin ku lebarkan tubuhku, menghirup dalam-dalam udara yang perlahan masuk, bersama bunga merah dan jingga tumbuh seiring cahaya mentari

Sesaat setelah kau berlalu dari pandanganku
Kembali aku melihat indahnya permadani langit
Namun kini tidak ada lagi gumpalan awan seputih kapas,
Digantikan oleh kumpulan awan kelabu yang perlahan menghalangi mentari
Tidak ada lagi angin sepoi yang mengayun lembut, kini ia diam-diam mulai mengguncangku keras

Embunku…
Sepertinya hari cerah akan berganti dengan butiran hujan
Apakah langit sedang menangis?
Entahlah…

Sesaat setelah kau lepas dari pelukanku
Hari cerah tadi telah berganti muram, tubuhku telah basah oleh tangisan langit, dan aku pun bertahan ditengah angin yang berusaha menggoyahkanku…
Tidak embun,
Bukan berarti aku tidak menyukai hujan… karena meski aku menjadi tidak bisa merasakan hangat mentari, dan melihat permadani langit,
Aku tahu hujan ini akan membuatku lebih pantas untuk menyambutmu… esok…

Maka…
Sesaat sebelum kau tiba,
Berbagai hal yang terjadi, bermacam kejadian yang aku lalui
Tidak pernah sedikit pun membuatku lelah, tidak pernah sedetik pun membuatku melupakanmu…
Aku selalu tersenyum memandang langit dengan gumpalan awan putih atau saat awan kelabu menghalangi mentari
Karena aku yakin, saat mentari mulai berganti bulan dan saat akhirnya bulan pulang ke peraduannya,
Esok…
Hariku akan sempurna saat Surya membawamu untukku…

Selasa, 01 Juli 2014

Yang Terkasih, Embun

Dalam gelap malam kemarin, ditemani sepoi angin...
Ia kembali merayuku untuk merangkai bait demi bait lagi untukmu
Katanya cintaku tidak akan terbukti sempurna jika lirik lagu yang kurangkai ini tidak aku nyanyikan untukmu...pagi nanti...

Jujur aku tidak mengerti nada, 
Atau bahkan bagaimana cara lirikku ini menyatu dengan untaian indah nada...
Ini hanyalah rangkaian kata tulus yang berusaha aku nyanyikan untukmu... Embunku terkasih...
Tidak ada petikan gitar, ataupun gesekan biola, karena bahkan aku tidak memngerti bagaimana cara memainkannya...
Hanya ada suara jangkrik kejauhan yang mengiringi suara sumbangku...
Kau tahu? Di atas sana bintang dan bulan tengah tertawa mendengarku bernyanyi...

Lagu ini aku persembahkan untukmu, embunku terkasih...

Tahukah kamu pertemuan pertama kita?
Pagi itu, masih dingin dan sunyi, aku berayun bersama sepoi angin menunggu surya untuk menghangatkan tubuhku...
Kau datang, bersama surya... Turun bersama embun lainnya, tertawa, tersipu malu...
Ya... Hanya kau yang terlihat indah dimataku...

Kau menawarkan keceriaan
Sejukmu seakan menghapus dahagaku...
Sejukmu seolah menyeka lelahku...

Biarkanlah aku mencintaimu...dengan tulus sepenuh hatiku
Biarkanlah aku menjagamu...dengan kasih setulus jiwaku
Dan biarkan aku menyayangimu...dengan segala kekuranganku...

Hanya sebuah cinta yang sederhana,
Karena aku tidak mampu memberikan cinta sempurna untukmu...
Aku memang tidak bisa menawarkan pengalaman indah di luar sana,
 namun aku menjanjikan kenyamanan untukmu setiap pagi
Hanya jika kau bersedia jatuh padaku...

Biarkanlah aku mencintaimu...dengan tulus sepenuh hatiku
Biarkanlah aku menjagamu...dengan kasih setulus jiwaku
Dan biarkan aku menyayangimu...dengan segala kekuranganku...

Hanya ini yang bisa aku tawarkan
Sebuah cinta yang sederhana...
Namun kuyakinkan padamu, cinta ini akan kuat ku pertahankan...