Jumat, 30 Mei 2014

Part 2 : SINGLE ≠ JOMBLO

Single, dalam kamus bahasa inggris berarti ….
 .....................................................
......................................................

Enough? Penjelasan dalam kamus bahasa inggrisnya cukup kan? Sekarang, buang aja kamusnya, biarkan saja gelas-gelasnya pecah, biar ramai (maaf sedikit AADC). 
Oke, intinya kita nggak perlu kamus karena kita akan mendefinisikan kata single dengan kata-kata kita sendiri! keren kan?! Yup, bagi penulis, mendefinisikan kata single itu sama kayak mendefinisikan cinta. Alias whaterver you say, just feel it and say it. And then, that is LOVE. Sama tuh, kayak single. Mau kamu bilang single itu bahagia, mau kamu bilang single itu bebas, mau bilang single itu amazing (asal jangan bilang single itu miris! Please!), yang ngerasain ya kamu-kamu yang lagi sendiri alias no one beside you! Kalo masih bingung dengan definisi single, just feel it. What dou you feel about single. What? Nggak dapet feelnya sama sekali? Never mind, setelah baca ini blog ini, kamu semua akan jauh…jauh…jauh…bisa merasakan makna sejujurnya dari single (tsaaaaahhh...).
Etiologi single
Oke, sorry-sorry to say ya buat beberapa pembaca yang sedikit aneh membaca tulisan etiologi (sorry, kata etiologi jadi kebawa karena gue lagi kebayang-bayang tugas kampus), jadi etiologi itu penyebab  alias hal apa ya yang menyebabkan adanya single? 
Single dalam arti sederhana deh ya, yang memang diketahui banyak orang awam adalah sendiri, it means dalam dunia asmara si single sedang tidak ada pasangan. Lalu hal apa sih yang menjadi alasan mengapa single itu ada? Well, beberapa survey kecil yang gue buat dengan sample temen-temen kampus gue yang kebetulan lagi “sendiri”, memilih kata single karena single akan identik dengan segala hal yang berbau positif kalau kita mau maknai secara lebih dalam. And big question is, korelasi apakah yang akan tercipta antara kata “single” dengan hal-hal positif tersebut? (sorry, lagi-lagi gue kebawa sama mata kuliah metodologi penelitian yang lagi gue pelajarin)
This is the answer :
Peneliti : lo jomblo sekarang?
Sample 1: No, no, gue itu single bukan jomblo. Kalau jomblo, udah daritadi gue minta pin BB cewek cakep, udah daritadi gue promosiin diri gue di twitter atau fb.
Peneliti : lo putus? Wah, berarti lo jomblo dong sekarang.
Sample 2 : aduh, bisa nggak sih kata jomblonya diganti? Kasihan banget dengernya.
Peneliti : betah banget sih jomblo, kapan lo punya pacar? Umur udah 20 tahun, belum juga pernah pacaran.
Sample 3 : ya di tunggu aja Be (singkatan dari babe), belum ada yang klik soalnya. Jangan bilang jomblo dong, jelek banget dengernya.
Peneliti : belum bisa move dari mantan lo? Pantesan masih jomblo.
Sample 4 : hei, gue single ya bukan jomblo. Single itu prinsip, jomblo itu nasib. Jadi gue masih sendiri karena prinsip, harus dapat yang paling baik baru gue pacarin.

Nah, jawaban dari keempat sample gue tadi, menurut gue sudah bisa membentuk sebuah persepsi dari kata “single” itu sendiri (menurut gue lo ya). Kalau single itu ya identika dengan hal-hal yang berbau positif yang akan mengarahkan kita untuk menjalani hidup tanpa pasangan. Suer deh! Oke, yang pertama, sebagai seorang singlers, kita akan merasa berharga. Coba deh bayangin, misalnya ada yang nanya, lo lagi jomblo ya? Sorry ya, gue single bukan jomblo. Wih, kesannya ya, menurut gue, saat gue ditanya itu dan gue jawab gue single, gue berasa berharga bahkan unlimited abis. Berasa gue ada sebuah prinsip kenapa gue masih mempertahankan kesendirian gue. Terserah alasannya belum ketemu yang pas, masih nunggu gebetan yang belum-belum nembak, sampai yang parah belum bisa move dari mantan sampai masih ngarepin pacarnya orang (oke, yang dua terakhir emang sudah seharusnya segera diselesaikan), tapi intinya kita punya suatu alasan untuk mempertahankan kesendirian kita yang pada akhirnya berujung pada sebuah keputusan kalau kita nggak mau main-main dalam hubungan. Karena gue berpendapat ketika kita mempunyai suatu alasan kuat kenapa masih sendiri, itu membuat kita jadi nggak sembarang milih pasangan. Kasian banget kan hanya karena biar punya pasangan aja, maksain punya pasangan atau hanya agar kita bisa ngelupain mantan kita cepet-cepet nyari pacar baru misalnya. 
          Itu menurut gue nggak baik tuh, karena ujung-ujungnya kita bakal gagal dalam hubungan. Suer! Coba pikir aja deh, hubungan yang kita bangun aja, didasari oleh sebuah kata “kepepet” atau “terpaksa” ya gimana hubungan itu nantinya bakal berlanjut? Setidaknya ketika kita sudah memutuskan memulai hubungan, harus ada kata SIAP dari kita untuk memulai hubungan baru lagi dan kata “siap” itu menjadi salah satu bagian prinsip dari kita yang memilih single.
                Second, single makes us feel strong. Yup, bagi gue yang (ternyata) single (uhuk,) kesendirian dan status single yang gue pilih buat gue lebih kuat setiap harinya untuk menghadapi hidup setiap harinya (agak lebay, maaf), yang intinya apapun kenyataan yang buat lo akhirnya sendiri saat ini, dengan memaknai kata single, bagi gue itu akan buat gue jauh lebih tangguh dari sebelumnya karena gue tahu masih banyak hal yang perlu dipikirn, perlu dilakuin selain mikirin gimana caranya buat dapet pacar lagi, (worlds is not always about love guys,) walaupun gue sendiri nggak mau munafik kalau ada suatu momen dimana kita sebagai seorang singlers merasa sendiri karena nggak ada seseorang yang bisa kita ajak berbagi kesedihan, atau sebagai seorang singlers yang merasa envy dengan kemesraan pasangan lain. Misalnya aja, contoh paling sederhana, envy liat pasangan yang lagi boncengan mesra, pelukan dan itu malem minggu! Kita yang single sih ketawa-ketawa aja trus bilang, “hah, dasar anak muda jaman sekarang.” Tapi dalam hati uda mengutuk mengapa harus ada malam minggu dan ujung-ujungnya menghela napas berat (fiuh) dan meratapi mengapa kita nggak punya pasangan saat ini (well, ini truly pengalaman gue banget, jadi buat lo yang merasa nasibnya sama gue dengan momen yang sama, pasangan-boncengan-pelukan-malem minggu, mari bersama-sama menghela napas berat).
Tapi, tapi tapi, gua yakin kok, helaan napas kita nggak akan lama, karena gue dan elo yang merasa single dan merasa jauh lebih kuat ketika memakai single sebagai status kesendirian, akan menganggap hal itu adalah hal biasa dan semakin sering kita dilihatkan kepada kemesraan dalam berpacaran, semakin kita kuat untuk mempertahankan status single kita karena satu tujuan, we want the best ever ever atau kata salah satu temen gue, the best come last. Apalagi strong ditambah dengan sikap mandiri kita sebagai seroang single. Dijamin lawan jenis bakal melting deh, karena strong ditambah mandiri akan membuat seorang singlers terlihat menikmati statusnya sebagai single. Kita nggak akan terliahat nelangsa, miris bahkan terpuruk hanya karena kita sendiri. apalagi ketika kita bisa mengambil sisi positif dari single, dijamin deh menjadi seorang single itu sebenarnya nggak buruk-buruk banget kok.
Third. Serius. Serius disini bukan dalam artian kita serius menikmati kesendirian kita ya, please karena gue nggak mau maksud dari tulisan ini bakal buat elo semua jadi comfort untuk single dan akhirnya milih untuk single selama yang elo bisa (jangan sampe deh!). Jadi serius yang gue maksud adalah, prinsip kita sebagai seorang singlers adalah ketika akhirnya kita memilih single, itu berarti kita nggak mau lagi main-main sama hubungan kita nantinya, karena nantinya pun kita nggak akan asal dalam memilih pasangan, kita memaknai sebuah hubungan dengan lawan jenis adalah sebagai hubungan yang mempunyai komitmen dan tidak main-main. Dan yang terpenting, ketika seseorang bahkan itu lawan jenis mengetahui bahwa kita single (bukan jomblo), menurut gue lawan jenis akan jauh berpikir dua kali untuk melakukan pendekatan dengan kita karena mereka tahu, seorang single nggak pernah main-main dengan hubungannya nanti karena lagi sekali, they want the best ever ever. Dan itulah harapan dan ekspektasi gue kepada gue sendiri dan elo semua yang memilih status single.
Fourth. Single makes us comfort. It means, dengan memaknai status kita yang lagi sendiri dengan kata single, akan menimbulkan perasaan comfort atau nyaman pada zona kita saat ini. It means again, dengan merasakan sebuah kenyamanan pada zona ini kita akan merasa bahwa apapun yang kita lakukan everytime, everyday, anywhere anytime, selalu membuat kita merasa enjoy untuk melakukannya seorang diri tanpa seseorang di samping kita. For the example deh, misalnya aja kegiatan nonton film, film romantic pula, kegiatan yang biasa kita lakoni bareng pacar, akan tidak terlalu terasa menyesakkan ketika kita harus melakukannya sendiri. walaupun kita kehilangan momen untuk berpegangan tangan di bioskop misalnya, tapi karena kita sudah merasa nyaman dengan zona single, kita gak akan terlalu mempermasalahkan kesendirian kita. Setidaknya, kita nggak akan terlalu mewek jadinya hanya karena kebutuhan ini itu, kesana kemari, kegiatan ini itu tidak bisa lakoni lagi bareng pacar. Istilah singkatnya nih ya, nggak punya pacar? Go ahead aja kali. :D

Menggenggam Erat Pasir

My head's under water
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind

'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh

Pagi itu di salah satu tangkai pohon,
Embun melihat sahabatnya tengah berkicau,
Burung terlihat bahagia, dengan suara merdu yang ia punya, berkicau menyanyikan syair demi syair lagu untuk kekasihnya. 
Sesekali wajahnya memerah..
Entahlah,
Apa karena ia terlalu bahagia ataukah justru ia malu karena kenyataan yang menghantamnya,
Kekasihnya tidak lagi berada disisinya...
Ya.
Burung itu tidak secantik biasanya...

Aku, kamu, kita semua mengetahui bahwa dunia selalu berada pada sisi tengah diantara dualitas. Positif dan negatif, kebahagiaan dan kesedihan, kemenangan dan kekalahan, cinta dan benci, sahabat dan musuh, dan...masih banyak lagi dualitas di dunia yang bisa sama-sama kita jabarkan. Ya, kita semua mengetahuinya, dan semua contoh dualitas yang aku sebutkan di atas kita alami semua. Tapi sudahkah kita memahaminya semua?

Kebahagiaan bukan lawan dari kesedihan, begitu pun dengan dualitas lainnya. Karenanya aku menggabungkan kedua kata itu dengan kata 'dan' bukan 'versus'.
Mengapa? Ya, karena setiap dualitas di dunia tidak dapat dipisahkan. Mereka akan selalu ada silih berganti dalam setiap kehidupan kita. Hari ini kita bahagia, namun siapa yang akan tahu bahwa menit berikutnya kesedihan akan datang menghampiri kita. Hari ini kita memenangkan perlombaan, namun siapa yang akan tahu apakah di perlombaan berikutnya kita akan tetap menang? 
Ya. Kehidupan seperti roda berputar, kita yakin suatu saat roda kehidupan kita akan berada di atas, namun kita juga harus ikhlas bahwa suatu hari roda kita akan berada di bawah.

Sebuah buku mengajarkanku bahwa semua dualitas bukan sebuah lawan. Sekali lagi, kebahagiaan bukan lawan dari kesedihan. Mereka akan datang bergantian, dan yang dapat kita lakukan terhadap dualitas itu adalah memeluknya.
Tidak. Kita tidak menggenggam erat kebahagiaan, dan menendang jauh kesedihan. Kita memeluknya. Buku itu memberitahuku bahwa hal sederhana yang dapat membuat seseorang menderita adalah justru ketika ia tidak rela melepaskan sesuatu yang seharusnya memang harus terlepas, dan ia tidak mau menerima sesuatu yang seharusnya ia terima. Sama halnya dengan dualitas kebahagiaan dan kesedihan. KIta semua menyadari atau tidak, setiap orang ingin menggenggam erat kebahagiaan, kemenangan dan lainnya, namun ia menolak dan menendang jauh kesedihan dan kekalahan. Itu yang membuat seseorang menderita. Menolak kesedihan, kekalahan, sama halnya menolak siang yang harus berganti malam.

Kisah burung itu contohnya,
Ya. burung itu mencintai kekasihnya, burung itu pernah mempunyai kenangan manis bersama kekasihnya dan tidak ingin berpisah pada kekasihnya. Karenanya burung itu bernyanyi untuk kekasihnya, berusaha membujuknya untuk kembali padanya. Sekuat yang ia mampu, ia akan berusaha sampai kekasihnya itu kembali ke pelukannya.
Ya. Aku setuju jika ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa cinta harus diperjuangkan. Namun, hal yang paling membingungkan dari cinta itu sendiri adalah ketika kita berada pada pilihan, haruskah kita bertahan? Atau pergi? dan sampai kapan?
Ya. Burung itu memilih untuk bertahan, ia berjuang.
"Aku yakin, kekasihku akan kembali. Aku yakin, kita akan kembali bersama. Aku yakin ia masih mencintaiku. Aku yakin kita akan kembali bahagia."
Tanpa burung itu sadari,
Bahwa itulah yang membuat burung itu menderita. Ia, menggenggam kuat kebahagiaannya, cintanya untuk kekasihnya. Menyangkal bahwa perlahan kebahagiaan itu surut seiring dengan kesedihan yang datang kepadanya.

Percaya.
Bahwa ketika kita melepaskan kebahagiaan dan menerima kesedihan yang datang, kita akan jauh lebih lega, lebih lepas, dan lebih tenang.
Ikhlas. Adalah suatu hal yang dipelajari saat kita merelakan semuanya, datang dan pergi. Maka hati akan terasa jauh lebih damai.
Karena kita memeluk keduanya, bukan menggenggam erat satunya dan menendang jauh satunya lagi.

Akan lebih baik jika burung merelakan kekasihnya pergi. Merelakan bahwa cinta mereka harus berakhir dan menyadari bahwa kekasihnya tidak akan kembali untuknya. Maka, semuanya akan jauh terasa lebih mudah untuk dijalani. Burung akan memulai perjalanan barunya, menikmati kesedihan yang menghampirinya. Takdir yang memang harus dijalani oleh burung pun tidak akan dipersulit.
Burung itu bahkan kita semua harus percaya ketika kesedihan menghampiri kita bukankah nanti ada kebahagiaan yang akan datang juga?
Kebahagiaan dan kesedihan dalam satu pelukan.

Karena menggenggam erat kebahagiaan sama halnya menggengggam erat pasir. Cepat atau lambat, perlahan, pasir di tangan akan habis juga.

Kamis, 29 Mei 2014

Embun dan Daun Itu

Kahlil Gibran berkata pada seorang pemuda, "berjalanlah menelusuri taman bunga ini dan petiklah satu bunga tercantik. Namun ingat, jika kamu sudah berjalan maju, maka kamu tidak boleh kembali atau berjalan mundur.
Maka berjalanlah ia menyusuri taman bunga itu untuk mencari bunga yang paling cantik yang akan ia petik.
Kemudian, ia melihat bunga cantik dan tertarik untuk memetiknya, namun ia berpikir "mungkin di depan sana masih ada bunga yang jauh lebih cantik dari bunga ini." Maka berjalanlah ia meninggalkan bunga cantik tadi.
Sampai akhirnya ia sampai di penghujung taman itu, dan ia pun akhirnya tidak mendapatkan bunga secantik bunga yang ia temui tadi. Maka menyesalah ia karena menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan bunga tadi yang sempat membuatnya tertarik.
Akhirnya, pria itu kembali tanpa setangkai bunga pun di tangannya. 

Embun sering mendengar kisah ini,
Kisah ini dibisikkan oleh angin, kisah ini pun dibawa oleh hujan, bahkan kisah ini juga dinyanyikan oleh burung...

Namun, sampai sekarang ia tidak mengerti, apa makna dibalik kisah itu.
Maka bertanyalah ia kepada Surya apa pelajaran yang dapat dipetik oleh kisah itu..

Surya menjawab,
"Daun itu  tidak seindah daun disana, tetapi ia mampu membuatmu menjatuhkan pilihan padanya,
Daun itu pun tidak sempurna bentuknya, tetapi ia mampu menjagamu disetiap paginya,
Daun itu bahkan sudah mulai mengering pada tepinya, tetapi ia mampu membuatmu bertahan padanya,
Sama halnya sepertimu embun,
Bukankah embun sepertimu terlihat sama dengan embun-embun lainnya?
Bukankah embun sepertimu sama sejuknya setiap pagi?
dan bukankah embun sepertimu hanya memberikan kesejukkan sesaat?
Lalu untuk apa daun itu masih mau menunggumu?
Untuk apa daun itu masih mau menangkapmu setiap pagi?
dan untuk apa daun itu masih mau memelukmu?
Mungkin saja masih banyak daun disana yang jauh lebih indah dan sempurna
dan mungkin masih banyak embun yang jauh lebih sejuk yang jatuh setiap paginya

Ya.
Daun itu melihat embun berbeda, dan embun melihat daun itu sempurna.

Ya.
Embun dan daun itu mengerti bahwa mereka saling melengkapi
Embun dan daun itu mengerti bahwa mereka saling menerima
Embun dan daun itu juga sadar bahwa ketika mereka bersama, mereka sempurna
tanpa perlu mencari lagi, tanpa perlu menemukan lagi
Karena apa yang berada di hadapan embun saat ini adalah yang terbaik
dan karena apa yang berada di hadapan daun itu saat ini adalah yang terindah

Selasa, 27 Mei 2014

Karena Embun

Somewhere over the rainbow
Way up high And the dreams that you dreamed of
Once in a lullaby

Somewhere over the rainbow
Blue birds fly
And the dreams that you dreamed of
Dreams really do come true 


Pagi itu pelangi menyapa mereka,
Embun dan daun itu, yang sedang bercanda,
Pelangi bertanya kepada daun itu, mengapa embun? mengapa harus embun yang ditunggu daun itu?
Bukankah ada mentari yang menyapanya tiap pagi?
Bukankah ada angin yang selalu membujuknya untuk terbang bersamanya?
Dan bukankah ada pelangi yang menawarkan berbagai indah warna untuknya...

Daun itu tersenyum, ia berkata
"Setiap paginya, embun memberiku kesejukkan dengan tetesannya,
mungkin tidak sebanyak hujan, namun embun mampu menghapus mimpi burukku di malam gelap dengan tetesannya keesokan harinya,"

Ya.
Karena embun selalu menyadarkan daun untuk mengawali pagi dengan indah
 
Embun tidak pernah meminta apapun selain daun yang ingin menangkapnya 
Embun pun tidak pernah meminta daun untuk mengajaknya terbang bersama angin,
Embun bahkan tidak pernah meminta daun untuk membawanya bersama melihat isi dunia,
Yang embun inginkan, cukuplah daun mengajaknya untuk tetap berpijak pada bumi dan bersamanya memandang luasnya langit biru 

Ya, karena embun, 
Meskipun hanya singkat waktu yang dihabiskannya di bumi, bisa membuat daun tidak pernah lupa bahwa embun ada,

Dan ketika embun kembali hadir keesokan paginya,
Daun itu pun tidak akan pernah merasa bosan dan menyesal telah menangkapnya,
Karena setiap singkat waktu yang mereka habiskan bersama, akan selalu menjadi waktu yang paling berharga bagi mereka

Karena embun

Senin, 26 Mei 2014

Percakapan Kami

Pagi itu, embun kembali jatuh pada daun itu,
Daun itu, seperti biasa, menyambutnya, tersenyum dan tertawa bersama embun...
Namun tiba-tiba, embun kembali teringat pada percakapan terakhir mereka,
Meragu...
"Apa? Apa yang membuatmu berpikir bahwa kini kita sama-sama meragu?" tanya embun.
Daun itu tersenyum penuh kasih, mengayun-ayunkan embun seraya berkata, "Kita sama-sama meragu terhadap suatu hal."
"Apa yang sama-sama kita ragukan?"
"Masa lalu embun,"
"Aku tidak mengerti. Bukankah ketika seseorang bisa berbaikan dengan masa lalunya dan memaafkan dirinya sendiri atas kesalahannya dimasa lalu itu berarti ia siap untuk berpindah?"
"Apa yang kamu ketahui tentang 'berpindah'?"
"Kita siap untuk menyayangi orang lain dan memberikan hati kita untuknya," Embun itu tertawa. "melakukan memang tidak semudah berucap."
Daun itu tersenyum melihat embun yang kini mulai mengerti.
Ya..setidaknya kini mereka sama-sama mengerti, bahwa waktu yang akan berkata nanti,
Ya..setidaknya kini mereka sama-sama mengerti, bahwa kini yang mereka perlu lakukan adalah membiarkan semuanya terjadi
Dan ya...setidaknya kini mereka sama-sama mengerti, bahwa kini bahwa yang bisa mereka lakukan hanyalah seperti ini,
Embun yang datang tiap pagi,
Daun itu yang menunggu embun,
Mereka tertawa bersama, saling bertukar cerita, saling memberikan pelukan sebagai semangat, bahkan mereka bisa saling berselisih hingga tidak mau saling berucap...
"Suatu hari nanti, aku akan menghadap surya dan meminta padanya agar kamu selalu jatuh padaku, tidak pada daun lain." ucap daun itu
Embun tersenyum. "Ya, terimakasih karena sudah berniat melakukannya, walaupun aku terlalu takut untuk menganggapnya sebagai janji."

"Satu hal lagi," kata embun. "bagaimana jika suatu hari nanti ada daun lain yang menawarkan kebahagiaan padaku tanpa meragu sedikit pun?"
"Itulah yang akan kamu pelajari embun, dengarkan kata hatimu, maka kamu akan jatuh pada daun yang berani berjuang agar kamu akan selalu jatuh padanya dan dia lah yang akan menjagamu selamanya."
"Relakah kamu meskipun daun lain itu memiliku?"
"Semua hal patut untuk diperjuangkan, tapi bukan untuk dipaksakan."

Minggu, 25 Mei 2014

Meragu

Oh lihat,
Betapa egoisnya embun, karena sesekali dirinya masih memikirkan daun di sana
Betapa serakahnya embun,
Ketika dirinya sudah jatuh pada daun itu, namun ia masih memikirkan janji manis yang pernah dibisikkan daun di sana...

Embun yang kini dipeluk oleh daun itu kini tengah mencuri-curi pandang ke arah daun di sana
ya..daun di sana. Berdiri angkuh dengan lebar dan indah namun menyimpan duka didalamnya..
Tidak.
Sudah seringkali embun menegur dirinya, mengingatkannya pada kenyataan pahit yang pernah dirasakannya.

Betapa kuatnya daun di sana mengibas-ngibas agar dirinya terjatuh dan
Betapa teganya daun di sana menolaknya pada pagi itu
Ya. Embun seharusnya masih mengingatnya, ketika suatu pagi tidak ada daun di sana yang menangkapnya..
hingga pada akhirnya embun jatuh ke bumi, dan membuat Surya tidak dapat menjemputnya...

Embun kini menatap daun itu
Daun itu tertawa kepadanya, semakin mengeratkan pelukannya pada embun...
Embun bertanya pada daun itu, "bisakah kamu berjanji untuk menemaniku selamanya? bisakah kamu berjanji untuk selalu menungguku setiap pagi? bisakah kamu berjanji untuk terus memelukku seperti ini?"
Embun melihat penuh harap...
Namun daun itu hanya diam dan perlahan senyumnya memudar..

Akhirnya daun itu balik bertanya,
"Tahukah kamu bahwa kini kita sama-sama meragu akan suatu hal?"

Daun itu

embun itu kini telah beranjak...
setelahnya ia berbaikan dengan masa lalunya
setelahnya ia memafkan dirinya sendiri
setelahnya ia menerima karma dari perbuatannya dimasa lalu

embun kini kembali jatuh pada sebuah daun
daun itu tidak cukup besar
daun itu tidak sempurna bentuknya
bahkan daun itu..ya, daun itu sempat embun sangsikan
namun siapa yang menyangka bahwa daun itu yang menawarkan kenyamanan
daun itu yang memberikan kedamaian
daun itu yang memeluknya, menjaganya untuk tetap bersamanya sebelum nanti surya menjemputnya

daun itu..