Minggu, 01 Mei 2016

A Letter For You


1 Mei 2015 dan sekarang sudah 1 Mei 2016
Ternyata setahun berlalu cepat karena kami membiarkan waktu berjalan bagaimana mestinya
Ternyata setahun terasa singkat karena kami tetap menjalani kesempatan hidup yang diberikan Tuhan
Dan ternyata setahun sudah terlewat sejak kepergian seseorang yang begitu kami cintai
Setahun sudah berlalu, dan banyak hal lalu yang kami lewati tanpa kehadiran nyatanya di sisi kami

Setahun tanpa Bapak,
Hampir setiap malam sekarang Komang yang nemenin Ibu tidur. Setiap minggu biasanya Ibu pergi ke renon buat senam jantung sehat. Bapak punya cucu perempuan, Bening udah umur tujuh atau delapan bulan (lupa) sekarang udah bisa merangkak sama berdiri. Mbok tina udah jadi bos di Premagana, Bli ngurah masih berusaha biar jadi Karu ICU Wangaya, doain ya pak. Oh iya, Kadek udah tamat, sekarang masih kerja home care, belum keterima di RS (doain ya Pak). Komang udah pindah kerja di perusahaan cargo, emmm… Yuda udah semester dua, IPK nya juga lumayan bagus. Kadek udah bisa naik mobil tapi bamper belakang sama depan udah tak beretin (maaf ya pak,)

Setahun tanpa Bapak,
Kadek rasa ada hikmah mengapa Tuhan akhirnya memilih Bapak untuk meninggalkan kami dan juga Ibu, karena tuhan tahu bahwa Ibu jauh lebih kuat dan tangguh daripada Bapak. Seinget Kadek, bahkan ketika Bapak meninggal, nggak pernah Kadek lihat Ibu meneteskan air mata. Hingga sekarang. Entah Ibu menangis di belakang anak-anaknya atau tidak, tapi yang pasti Ibu tahu bahwa ia tidak boleh menangis di depan anak-anaknya karena Ibu harus menjadi orang yang kuat demi anak-anaknya. Banyak yang bilang kalau Kadek kuat, tanpa mereka tahu bahwa Kadek punya Ibu yang jauh jauh lebih kuat. Dan semakin lama semakin hari, Kadek tahu Ibu semakin berusaha menikmati hidupnya meskipun kadang-kadang, Ibu ingat dengan cita-citanya setelah pensiun dengan Bapak.

Setahun tanpa Bapak,
Semua yang Kadek lakukan hari ini dan nanti, semuanya buat Ibu karena Kadek nggak sempat memberikan apapun yang terasa pantas buat Bapak. Semua yang Kadek lakukan hari ini dan nanti, semuanya untuk kebahagiaan Ibu karena Kadek belum sempat membahagiakan Bapak sepantasnya. Apapun yang Kadek lakukan hari ini dan nanti akan membuat Ibu bangga karena itu yang Bapak selalu inginkan. Semoga Tuhan mau memberikan umur panjang dan kesehatan buat Ibu, karena masih besar usaha yang harus Kadek lakukan untuk membahagiakan Ibu.

Setahun tanpa Bapak,
Semoga peringatan tahun-tahun berikutnya, Kadek udah bisa buat Bapak jauh lebih bangga. Kadek kangen Bapak. Peluk cium dari sini.

Rabu, 17 Februari 2016

Bersyukur Itu Nikmat Sekali

Kali ini, ijinkan saya untuk membagikan hal yang berada di dalam pikiran dan benak saya. Suatu hal yang sering kali kita hadapi namun sering kali pula kita lupakan. Suatu hal yang sebenarnya mudah untuk kita lakukan namun terkadang lupa untuk kita jalani.
Bersyukur.

Diberikan kesempatan hidup oleh Tuhan selama dua puluh empat tahun, bahkan sampai detik ini tanggal 17 februari 2015 adalah alasan sederhana mengapa saya patut bersyukur setiap detiknya. Banyak hal yang kita lalui baik buruknya seharusnya harus disyukuri. Mungkin ada benarnya dengan seloroh orang Bali yang sering mengatakan “aget kene… aget keto”. Orang yang mengalami kecelakaan yang menyebabkan ia harus mengalami patah tulang pada tangannya, maka orang-orang akan mengatakan “untung yang patah bukan kakinya”. Orang yang kehilangan dompetnya, kehilangan uangnya sebesar 500.000, maka orang-orang mungkin akan mengatakan, “biarpun uangnya hilang, untung SIM sama KTP nya tidak. peristiwa seperti itu menyadarkan saya bahwa seloroh orang Bali tersebut mungkin ada baiknya, karena mengajarkan saya bahwa pada setiap kejadian buruk yang kita alami, kita harus selalu bersyukur dan mengambil sisi positifnya.
Bahkan ketika saya dihadapkan pada sebuah kehilangan dari seseorang untuk selamanya, yaitu ayah saya sendiri, saya pun mendengar seloroh orang-orang disekitar saya yang mengatakan, “untung meninggalnya di kampung”, “untung meninggalnya seperti ini, tanpa sakit yang berkepanjangan, dan tidak menyusahkan keluarganya.” Saat mendengar hal tersebut saya tidak marah namun tidak juga tersenyum. Namun saya mengaminkan (astungkara) kata-kata mereka seraya berpikir, bahwa disetiap kejadian apapun yang terjadi, terlebih pada saat kita sedih, susah, kalah, kita harus tetap bersyukur. Dan ketika saat itu saya terus berusaha bersyukur dan ikhlas atas kehilangan yang saya alami, saya tahu saya semakin kuat.
Sangat sulit untuk bersyukur, ketika kita berada di posisi di bawah. Orang-orang cenderung melupakan untuk bersyukur ketika mereka berada di bawah sehingga hal itu pula yang menyebabkan mereka sulit untuk menapaki roda kehidupan mereka kembali. Itulah yang saya alami. Ketika saya gagal untuk memenangkan sebuah lomba penulisan essay, dengan sebuah harapan tinggi karena bagi saya usaha yang saya lakukan sudah seoptimal mungkin, disaat itulah saya mengakui bahwa Tuhan belum memberikan jalan bagi saya untuk menang. Sangat sulit untuk menerima kekalahan saya saat itu. walaupun di depan teman-teman saya tersenyum, namun dalam hati saya masih tidak menerima kekalahan saya. Saya sama sekali tidak bisa mengambil sisi positif dari kekalahan saya apalagi bersyukur. Namun toh pada akhirnya, saya menyadari bahwa setiap kesedihan atau kekalahan yang saya alami, saya belajar untuk bersyukur. Selama dua puluh empat tahun saya diberikan kesempatan hidup, Tuhan memberikan saya semuanya, baik buruknya, sedih senangnya untuk saya hadapi sehingga saya lambat laun belajar, bahkan dikeadaan paling terbawah pun, meski sulit, saya harus bersyukur.
Bersyukur membuat saya jengah bahwa seperti ini kehidupan saya, yang mungkin terkadang saya keluhkan karena tidak ini dan tidak seperti itu, masih banyak sangat banyak orang-orang diluar saya yang memiliki kehidupan yang jauh lebih kurang daripada saya, dan bahkan menginginkan kehidupan seperti saya, dan mereka tetap bersyukur. Saya kehilangan ayah saya pada Mei 2015 kemarin, namun bahkan ada teman saya yang bahkan sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Saya bersekolah hingga S1, diluar sana banyak teman-teman saya yang sangat bersyukur bisa bersekolah hingga SMA. Saya pernah gagal dalam sebuah sesi wawancara kerja, namun diluar sana bahkan masih ada mereka yang sama sekali belum pernah diberi kesempatan untuk melakukan wawancara kerja.
Maka, hal-hal kecil yang selalu terjadi disetiap detik saya hidup, menyadarkan saya, bahwa bersyukur adalah cara sederhana untuk merasa bahagia, dan ketika hati mulai merasa kesal dengan kondisi saya atau nasib yang saya alami, saya selalu mengingat bahwa banyak diluar sana, mereka yang keadaannya lebih buruk daripada saya. Apa yang saya ungkapkan dalam tulisan saya ini sederhananya hanya agar suatu saat ketika saya mulai lupa untuk bersyukur, dengan membaca tulisan ini saya kembali mengingat bahwa hal-hal yang sudah saya lalui dengan baik itu karena Tuhan berada di samping saya.
Terus menerus diberikan oleh Tuhan, mengajarkan dan menyadarkan saya bahwa bersyukur itu nikmat sekali.