Kali ini, ijinkan saya untuk
membagikan hal yang berada di dalam pikiran dan benak saya. Suatu hal yang
sering kali kita hadapi namun sering kali pula kita lupakan. Suatu hal yang
sebenarnya mudah untuk kita lakukan namun terkadang lupa untuk kita jalani.
Bersyukur.
Diberikan kesempatan
hidup oleh Tuhan selama dua puluh empat tahun, bahkan sampai detik ini tanggal
17 februari 2015 adalah alasan sederhana mengapa saya patut bersyukur setiap
detiknya. Banyak hal yang kita lalui baik buruknya seharusnya harus disyukuri. Mungkin
ada benarnya dengan seloroh orang Bali yang sering mengatakan “aget kene… aget
keto”. Orang yang mengalami kecelakaan yang menyebabkan ia harus mengalami
patah tulang pada tangannya, maka orang-orang akan mengatakan “untung yang
patah bukan kakinya”. Orang yang kehilangan dompetnya, kehilangan uangnya
sebesar 500.000, maka orang-orang mungkin akan mengatakan, “biarpun uangnya
hilang, untung SIM sama KTP nya tidak. peristiwa seperti itu menyadarkan saya
bahwa seloroh orang Bali tersebut mungkin ada baiknya, karena mengajarkan saya bahwa
pada setiap kejadian buruk yang kita alami, kita harus selalu bersyukur dan
mengambil sisi positifnya.
Bahkan ketika
saya dihadapkan pada sebuah kehilangan dari seseorang untuk selamanya, yaitu
ayah saya sendiri, saya pun mendengar seloroh orang-orang disekitar saya yang
mengatakan, “untung meninggalnya di kampung”, “untung meninggalnya seperti ini,
tanpa sakit yang berkepanjangan, dan tidak menyusahkan keluarganya.” Saat mendengar
hal tersebut saya tidak marah namun tidak juga tersenyum. Namun saya mengaminkan
(astungkara) kata-kata mereka seraya berpikir, bahwa disetiap kejadian apapun
yang terjadi, terlebih pada saat kita sedih, susah, kalah, kita harus tetap
bersyukur. Dan ketika saat itu saya terus berusaha bersyukur dan ikhlas atas
kehilangan yang saya alami, saya tahu saya semakin kuat.
Sangat sulit
untuk bersyukur, ketika kita berada di posisi di bawah. Orang-orang cenderung
melupakan untuk bersyukur ketika mereka berada di bawah sehingga hal itu pula
yang menyebabkan mereka sulit untuk menapaki roda kehidupan mereka kembali. Itulah
yang saya alami. Ketika saya gagal untuk memenangkan sebuah lomba penulisan essay,
dengan sebuah harapan tinggi karena bagi saya usaha yang saya lakukan sudah seoptimal
mungkin, disaat itulah saya mengakui bahwa Tuhan belum memberikan jalan bagi
saya untuk menang. Sangat sulit untuk menerima kekalahan saya saat itu.
walaupun di depan teman-teman saya tersenyum, namun dalam hati saya masih tidak
menerima kekalahan saya. Saya sama sekali tidak bisa mengambil sisi positif
dari kekalahan saya apalagi bersyukur. Namun toh pada akhirnya, saya menyadari
bahwa setiap kesedihan atau kekalahan yang saya alami, saya belajar untuk
bersyukur. Selama dua puluh empat tahun saya diberikan kesempatan hidup, Tuhan
memberikan saya semuanya, baik buruknya, sedih senangnya untuk saya hadapi
sehingga saya lambat laun belajar, bahkan dikeadaan paling terbawah pun, meski
sulit, saya harus bersyukur.
Bersyukur membuat
saya jengah bahwa seperti ini kehidupan saya, yang mungkin terkadang saya
keluhkan karena tidak ini dan tidak seperti itu, masih banyak sangat banyak
orang-orang diluar saya yang memiliki kehidupan yang jauh lebih kurang daripada
saya, dan bahkan menginginkan kehidupan seperti saya, dan mereka tetap
bersyukur. Saya kehilangan ayah saya pada Mei 2015 kemarin, namun bahkan ada
teman saya yang bahkan sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Saya bersekolah
hingga S1, diluar sana banyak teman-teman saya yang sangat bersyukur bisa
bersekolah hingga SMA. Saya pernah gagal dalam sebuah sesi wawancara kerja,
namun diluar sana bahkan masih ada mereka yang sama sekali belum pernah diberi
kesempatan untuk melakukan wawancara kerja.
Maka, hal-hal
kecil yang selalu terjadi disetiap detik saya hidup, menyadarkan saya, bahwa
bersyukur adalah cara sederhana untuk merasa bahagia, dan ketika hati mulai
merasa kesal dengan kondisi saya atau nasib yang saya alami, saya selalu
mengingat bahwa banyak diluar sana, mereka yang keadaannya lebih buruk daripada
saya. Apa yang saya ungkapkan dalam tulisan saya ini sederhananya hanya agar
suatu saat ketika saya mulai lupa untuk bersyukur, dengan membaca tulisan ini
saya kembali mengingat bahwa hal-hal yang sudah saya lalui dengan baik itu
karena Tuhan berada di samping saya.
Terus menerus
diberikan oleh Tuhan, mengajarkan dan menyadarkan saya bahwa bersyukur itu
nikmat sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar