Jumat, 07 Agustus 2015

1 Mei 2015

“Nanti kalau kadek mau pelatihan HD, berapa pun biayanya Bapak pasti bayarin. Biar nggak Komang aja yang Bapak kasih sekolah S2, masak Kadek minta uang 8 juta aja Bapak nggak ngasi, pasti Bapak ngasi.”

“Ngantuk pak? Sini kadek yang bawa mobilnya,”
“Jangan, ntar aja kalau udah tamat, Bapak kasi dah bawa mobilnya.”

“Ih, enak ternyata minuman kopinya Dek, ilang ngantuknya Bapak jadinya, ntar setiap pulang ke Sukawana, kalau ngantuk Bapak beli ini aja, apa nama minumannya ni?
“Kopiko 78˚ pak"

“Masih jauh nggak rumahnya pak?”
“Kamu, baru gitu aja ngeluh, udah cuma punya Wak tinggal satu, sekarang udah meninggal, kasihanin apa,”
“Iya, gimana men pak, namanya juga orang, pasti melewati tiga fase, lahir hidup mati.”
“Iya sih,”


1 Mei 2015, aku tidak pernah menyangka bahwa hari itu adalah hari yang paling menyedihkan yang pernah aku alami selama 23 tahun aku ada. Ya, kehilangan orang yang sangat aku cintai. Satu-satunya pria yang mencintai aku, satu-satunya pria yang tidak pernah membuatku menangis, satu-satunya pria yang selalu berusaha membuatku bahagia. Aku dan keluargaku. Aku dan juga ibu, kakak dan adikku.
1 Mei 2015, aku tidak pernah menyangka bahwa hari itu adalah hari terakhir aku melihatnya, hari terakhir aku berbicara padanya, hari terakhir aku memeluk dan menciumnya. Aku tidak pernah menyangka aku lah yang melihat napas terakhirnya, aku yang berusaha membuatnya tetap hidup dan bernapas namun akhirnya gagal. Melihatnya akhirnya meninggalkan dunia di pelukanku, saat itu yang masih aku ingat, aku hanya bisa menangis dan memanjatkan doa mantram Gayatri. Bibirku tidak henti memanjatkan mantra itu sebagai pengantar agar beliau dapat beristirahat dengan tenang dan damai walau hatiku saat itu sangat hancur. Aku tidak pernah merasa sehancur itu. Namun percayalah, saat pertama kali tahu bahwa beliau meninggal sampai akhirnya beliau menyatu dengan bumi, tidak pernah sekalipun bibirku mengatakan padanya bahwa ia jahat, bahwa betapa teganya beliau meninggalkan kami begitu cepat, saat aku merasa belum pernah sekalipun membalas apa yang sudah ia berikan kepadaku. Aku pun tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa Tuhan jahat, tidak pernah. Walau sehancur-hancurnya aku saat itu, aku tetap percaya ini sudah jalan terbaik yang diberikan Tuhan, walaupun sampai saat ini aku masih tidak tahu hal baik apa yang bisa aku terima dari kehilangan seorang ayah.
Akan banyak momen yang mengingatkan aku padanya. Ini sudah tiga bulan sejak kepergian beliau, dan selama itu pula saat aku merindukannya, aku akan berdoa untuknya dan.. ya aku akan menangis. Tidak, bukan karena aku belum ikhlas atas kepergian beliau, aku sangat ikhlas, hanya saja aku memang tidak pernah berjanji untuk berhenti menangis, aku akan menangis saat mengingatnya, akan selalu.
Aku mengingatnya yang selalu duduk di sofa ujung di ruang keluarga kami untuk menonton metro TV atau TV1, aku mengingatnya yang selalu menyuruhku mengambilkan air untuknya minum obat, aku mengingatnya yang selalu menyuruhku untuk membuat susu diabetasol, aku mengingatnya yang sangat manja ketika sedang sakit dan selalu memintaku untuk memijatnya, dan yang hal termanis yang akan selalu ingat, beliau yang selalu khawatir ketika anaknya belum pulang diatas jam10 malam dan tidak akan tidur sebelum anaknya pulang. Dan ketika anaknya pulang kemalaman, ia akan bertanya, “kok malem pulangnya? Udah makan?” lalu beliau akan pergi untuk mengunci pintu.
Setiap ayah adalah pria terbaik bagi anaknya, terlebih bagi anak perempuannya, menurutku. Dan beliau adalah pria terbaik yang pernah aku miliki. Ketika dia meninggal, dan tidak ada hentinya aku menangis saat itu, aku merasa malu karena sebelumnya pernah mengeluarkan air mata untuk laki-laki lain yang telah menyakitiku, seolah-olah harusnya aku tidak pantas menangis untuk mereka karena justru beliau satu-satunya laki-laki yang bahkan sekalipun tidak pernah menyakitiku akhirnya meninggalkan ku selamanya
Rasanya masih terasa aneh, ketika di rumah menemukan tidak ada beliau karena aku masih ingat spot-spot tempat yang biasa aku temukan ketika aku pulang ke rumah. Namun aku percaya, beliau selalu melihat kami di sana, di sisi Tuhan beliau melihatku, ibu, kakak dan adik, bahwa hanya ruang dimensi yang memisahkan kami, bahwa hanya saja aku sudah tidak bisa lagi melihatnya, memeluknya dan mencium tangannya, tapi setidaknya kami tahu kami bisa saling mendoakan. Beliau mendoakan kami disini agar selalu diberi perlindungan Tuhan, sedangkan kami mendoakan beliau agar damai di sisi Tuhan.
Ini kali pertama setelah lebih dari enam bulan aku kembali menulis di blog ku, dan memposting suatu hal yang dirasa menyedihkan untuk dibaca kembali nanti. Namun aku sendiri tidak masalah, karena ketika suatu saat aku melihatnya kembali, mungkin aku akan kembali menangis, namun aku tahu aku sudah melewatinya dengan hebat bersama keluargaku, dengan dukungan teman-teman yang menyayangiku. Dan berharap bahwa siapapun yang membacanya, pada akhirnya kita harus bersama-sama menyadari bahwa waktu bersama keluarga sangat berharga, kita memang bertambah dewasa dengan umur kita namun kita harus sadar bahwa orang tua pun bertambah tua.
Satu hal yang aku pelajari atas 1 Mei 2015 kemarin, bahwa meninggalkan atau ditinggalkan hanya masalah waktu.