“Nanti kalau
kadek mau pelatihan HD, berapa pun biayanya Bapak pasti bayarin. Biar nggak
Komang aja yang Bapak kasih sekolah S2, masak Kadek minta uang 8 juta aja Bapak
nggak ngasi, pasti Bapak ngasi.”
“Ngantuk pak? Sini
kadek yang bawa mobilnya,”
“Jangan, ntar aja kalau udah tamat, Bapak kasi dah bawa
mobilnya.”
“Ih, enak
ternyata minuman kopinya Dek, ilang ngantuknya Bapak jadinya, ntar setiap
pulang ke Sukawana, kalau ngantuk Bapak beli ini aja, apa nama minumannya ni?
“Kopiko 78˚
pak"
“Masih jauh nggak
rumahnya pak?”
“Kamu, baru gitu
aja ngeluh, udah cuma punya Wak tinggal satu, sekarang udah meninggal,
kasihanin apa,”
“Iya, gimana men
pak, namanya juga orang, pasti melewati tiga fase, lahir hidup mati.”
“Iya sih,”
1 Mei 2015, aku
tidak pernah menyangka bahwa hari itu adalah hari yang paling menyedihkan yang
pernah aku alami selama 23 tahun aku ada. Ya, kehilangan orang yang sangat aku
cintai. Satu-satunya pria yang mencintai aku, satu-satunya pria yang tidak
pernah membuatku menangis, satu-satunya pria yang selalu berusaha membuatku
bahagia. Aku dan keluargaku. Aku dan juga ibu, kakak dan adikku.
1 Mei 2015, aku
tidak pernah menyangka bahwa hari itu adalah hari terakhir aku melihatnya, hari
terakhir aku berbicara padanya, hari terakhir aku memeluk dan menciumnya. Aku tidak
pernah menyangka aku lah yang melihat napas terakhirnya, aku yang berusaha
membuatnya tetap hidup dan bernapas namun akhirnya gagal. Melihatnya akhirnya
meninggalkan dunia di pelukanku, saat itu yang masih aku ingat, aku hanya bisa
menangis dan memanjatkan doa mantram Gayatri. Bibirku tidak henti memanjatkan
mantra itu sebagai pengantar agar beliau dapat beristirahat dengan tenang dan
damai walau hatiku saat itu sangat hancur. Aku tidak pernah merasa sehancur
itu. Namun percayalah, saat pertama kali tahu bahwa beliau meninggal sampai
akhirnya beliau menyatu dengan bumi, tidak pernah sekalipun bibirku mengatakan
padanya bahwa ia jahat, bahwa betapa teganya beliau meninggalkan kami begitu
cepat, saat aku merasa belum pernah sekalipun membalas apa yang sudah ia
berikan kepadaku. Aku pun tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa Tuhan jahat,
tidak pernah. Walau sehancur-hancurnya aku saat itu, aku tetap percaya ini
sudah jalan terbaik yang diberikan Tuhan, walaupun sampai saat ini aku masih
tidak tahu hal baik apa yang bisa aku terima dari kehilangan seorang ayah.
Akan banyak momen
yang mengingatkan aku padanya. Ini sudah tiga bulan sejak kepergian beliau, dan
selama itu pula saat aku merindukannya, aku akan berdoa untuknya dan.. ya aku
akan menangis. Tidak, bukan karena aku belum ikhlas atas kepergian beliau, aku
sangat ikhlas, hanya saja aku memang tidak pernah berjanji untuk berhenti
menangis, aku akan menangis saat mengingatnya, akan selalu.
Aku mengingatnya
yang selalu duduk di sofa ujung di ruang keluarga kami untuk menonton metro TV
atau TV1, aku mengingatnya yang selalu menyuruhku mengambilkan air untuknya
minum obat, aku mengingatnya yang selalu menyuruhku untuk membuat susu
diabetasol, aku mengingatnya yang sangat manja ketika sedang sakit dan selalu
memintaku untuk memijatnya, dan yang hal termanis yang akan selalu ingat,
beliau yang selalu khawatir ketika anaknya belum pulang diatas jam10 malam dan
tidak akan tidur sebelum anaknya pulang. Dan ketika anaknya pulang kemalaman,
ia akan bertanya, “kok malem pulangnya? Udah makan?” lalu beliau akan pergi
untuk mengunci pintu.
Setiap ayah
adalah pria terbaik bagi anaknya, terlebih bagi anak perempuannya, menurutku. Dan
beliau adalah pria terbaik yang pernah aku miliki. Ketika dia meninggal, dan
tidak ada hentinya aku menangis saat itu, aku merasa malu karena sebelumnya
pernah mengeluarkan air mata untuk laki-laki lain yang telah menyakitiku, seolah-olah
harusnya aku tidak pantas menangis untuk mereka karena justru beliau
satu-satunya laki-laki yang bahkan sekalipun tidak pernah menyakitiku akhirnya
meninggalkan ku selamanya
Rasanya masih
terasa aneh, ketika di rumah menemukan tidak ada beliau karena aku masih ingat
spot-spot tempat yang biasa aku temukan ketika aku pulang ke rumah. Namun aku
percaya, beliau selalu melihat kami di sana, di sisi Tuhan beliau melihatku,
ibu, kakak dan adik, bahwa hanya ruang dimensi yang memisahkan kami, bahwa
hanya saja aku sudah tidak bisa lagi melihatnya, memeluknya dan mencium
tangannya, tapi setidaknya kami tahu kami bisa saling mendoakan. Beliau mendoakan
kami disini agar selalu diberi perlindungan Tuhan, sedangkan kami mendoakan
beliau agar damai di sisi Tuhan.
Ini kali pertama
setelah lebih dari enam bulan aku kembali menulis di blog ku, dan memposting
suatu hal yang dirasa menyedihkan untuk dibaca kembali nanti. Namun aku sendiri
tidak masalah, karena ketika suatu saat aku melihatnya kembali, mungkin aku
akan kembali menangis, namun aku tahu aku sudah melewatinya dengan hebat
bersama keluargaku, dengan dukungan teman-teman yang menyayangiku. Dan berharap
bahwa siapapun yang membacanya, pada akhirnya kita harus bersama-sama menyadari
bahwa waktu bersama keluarga sangat berharga, kita memang bertambah dewasa
dengan umur kita namun kita harus sadar bahwa orang tua pun bertambah tua.
Satu hal yang aku
pelajari atas 1 Mei 2015 kemarin, bahwa meninggalkan atau ditinggalkan hanya
masalah waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar