Senin, 30 Juni 2014

Yang Terkasih



Kepada yang terkasih,
Embun…

Sering kali kau bertanya padaku, “bagaimana malam itu? hal indah apa yang ada saat malam? Dan apa yang kamu lakukan saat malam?”
Malam…
bagaimana? Apa?
Pertanyaan sederhanamu itu cukup sulit aku jawab,
Bukan, bukan karena aku tidak mampu menceritakannya padamu, hanya saja, aku terlalu takut melihat wajah penuh harapmu yang berakhir sedih saat aku bercerita tentang malam…
Karena bagaimana malam itu, hal indah apa yang ada saat malam akan membuatmu iri…

Namun pada akhirnya ketika ku beranikan diri untuk menulis cerita malam, untukmu, embun ku yang terkasih,
Itu karena aku ingin kau mengetahui dan merasakan seperti apa malam-malam yang aku habiskan,
Untuk menunggumu…
dikeesokan pagi yang sunyi,
Ya, pagi yang sunyi, hanya ada aku yang menantimu saat lainnya masih terlelap…
Akan menyambutmu… dan memelukmu…

Ada bintang,
Dia kecil, bercahaya, dan indah… namun masih kalah indah dibandingkan dirimu,
Dia berpendar indah, ramai, seperti hamparan pasir di langit, namun dia lah yang membuat langit gelap bercahaya,
Ada bulan,
Bundar sempurna tergantung di langit gelap, meski terkadang badannya mengikis, ia cantik…namun masih kalah cantik dibandingkan dirimu,
Kepada mereka aku bercerita…tentangmu,
Ketika semua di sekitarku sudah berada dalam buaian mimpi mereka, aku masih memandang langit, bercerita tentangmu kepada mereka…
Pendar cahaya bintang sering kali bergumam betapa beruntungnya dirimu,
Sinar lembut bulan pun ingin sekali bertemu denganmu,
Namun apa daya, kamu hadir saat mereka sudah terlelap…

Ya, aku mengakui,
Selalu ada malam yang indah…
Terlebih karena disekililingku yang sudah terlelap,
suasana malam pun tenang, tanpa kicauan burung yang terkadang terlalu berisik…
ditemani pendar cahaya langit malam, hanya ada suara jangkrik yang terdengar di kejauhan…dan angin sepoi yang terkadang berbisik padaku…menyuruhku untuk melantunkan bait demi bait lagu untuk menyambutmu esok paginya…

Embunku yang terkasih,
Namun ketahuilah,
Tidak selamanya malam itu indah,
Ada saatnya malam menjadi sangat menakutkan, dengan badai yang mengancam, beserta angin keras yang siap menghancurkan segalanya, disaat langit cerah ditutupi awan gelap, dan aku tidak melihat bintang dan bulan yang biasanya menemaniku,
Dan saat itu aku tahu bahwa malam itu bisa saja aku habis dihancurkan badai, namun disaat itu pula aku sadar bahwa aku harus bertahan sekuat yang aku bisa,
Karena aku yakin disaat semua usahaku untuk bertahan ditengah badai malam,
Esok harinya… Surya akan mempertemukanku padamu…

Embunku yang terkasih,
Sering kali aku tersenyum melihat langit malam,
Meski langit malam membuatku tidak bisa melihatmu,
Namun aku tahu saat malam dirimu tengah lelap di pelukan surya,
Aku tahu dirimu sama-sama merindu sepertiku disetiap malamnya,
Dan aku tahu bahwa dirimu pun tidak sabar menanti datangnya esok pagi …

Embunku yang terkasih…
Meski aku ditemani pendar indah bintang dan bulan, atau bertahan ditengah badai,

Tidak akan pernah ada malam demi malam yang sia-sia,
Jika semua terbayar saat esok pagi dirimu masih bersedia jatuh padaku,
Tidak akan pernah ada malam demi malam yang melelahkan,
Jika semua dihapus oleh senyummu,
Dan tidak akan pernah ada malam demi malam yang terasa sepi
Jika esok harinya dirimu akan menawarkan kecerian untukku,
Ya, malam akan selalu menjadi indah bagiku, karena embun …

Kamis, 26 Juni 2014

The Step that we Choose

karena setiap langkah yang kita buat adalah sebuah pilihan
karena setiap pilihan yang kita buat adalah sebuah bentuk tanggung jawab
kemarin lusa, hari ini atau besok, saat kita sudah memutuskan sebuah pilihan, kita akan melangkah,
melakukan, melakoni, apa yang telah kita pilih, dan bertanggung jawab atas langkah yang kita buat,
senang ataupun tidak, ikhlas ataupun terpaksa, apapun yang telah kita pilih, dan telah kita mantapkan untuk melangkah, ada tanggung jawab disana

ya, pilihan ini pilihan yang kita senangi, pilihan yang kita inginkan, bahkan tidak sabar rasanya untuk kita segera melangkah
atau mungkin pilihan ini bukan pilihan yang kita senangi, pilihan ini dipaksakan, atau sialnya pilihan ini didesak karena suatu hal suatu keadaan, suatu kondisi,
ya, toh akhirnya senang atau tidak, ikhlas ataupun terpaksa kita tetap melangkah atas pilihan kita

tentu penting adanya sebuah alasan atas pilihan kita, karena bahkan penting pula dasar pemikiran atas langkah yang kita pijak, namun rasa-rasanya, jauh lebih penting tanggung jawab yang ada di pilihan serta langkah kita
mungkin disuatu masa kita menyesal atas pilihan kita, atau mungkin kita ingin mengulang langkah awal yang pernah kita buat, entah pada akhirnya kita menyesal atas pilihan yang salah, atau bersedih dengan langkah keliru yang kita pijak,

hadapi, belajar untuk bertanggung jawab.

Karena sebenarnya kita sedang berada didalam area pendewasaan kita sendiri, dengan langkah yang kita ambil, dengan pilihan yang kita lakoni, 
benar atau salah, senang atau sedih pada akhirnya, sesungguhnya kita sedang belajar menjadi seseorang yang dewasa setiap harinya, setiap detiknya, setiap saatnya

rasa-rasanya tidak pernah ada pilihan yang terlalu keliru, rasa-rasanya tidak pernah ada langkah yang kelewat salah, ini semua hanyalah bagaimana cara kita memandang sebuah pilihan dan langkah, dan bagaimana cara kita bertanggung jawab karenanya
rasa-rasanya tidak pernah ada seseorang yang selalu bersalah, rasa-rasanya tidak pernah ada seseorang yang menyesal sampai akhir hidupnya, asal mereka tahu bagaimana mereka bertanggung jawab

karena tanggung jawab yang ada disetiap pilihan dan langkah kita akan menjadikan kita dewasa setiap detiknya...
setiap hari kita membuat pilihan, setiap detik kita menentukan langkah, 
maka sudah seharusnya pula kita belajar bertanggung jawab setiap saatnya

nb. seseorang pernah bilang, "dewasa itu pilihan"
i think that's a big wrong,
dewasa itu dicari, dipelajari, dari pengalaman akan pilihan dan langkah yang kita ambil

Senin, 23 Juni 2014

pagi setelah hujan reda

pagi setelah hujan reda,
riak-riak kecil di kolam masih membawa cerita hujan semalam,
pagi setelah hujan reda, bias embun bersama surya membawa pelangi bersama mereka, menawan semesta dengan warnanya
pagi setelah hujan reda, 
seisi dunia masih terlelap dalam peraduan mereka, menikmati damainya pagi setelah hujan reda, bau tanah menyejukkan hidung mereka, menentramkan mata mereka untuk kembali terpejam untuk melanjutkan bunga tidur mereka
pagi setelah hujan reda, 
daun kecil di sudut taman berwarna hijau cerah, ada titik-titik air di sepanjang tubuhnya sisa hujan, siap menyambut embun yang akan jatuh di atasnya, berayun-ayun mengikuti sepoi angin pagi

pagi setelah hujan reda,
ada kehidupan baru bagi mereka,
daun yang mengering, bunga yang layu, serta ranting yang rapuh habis dihancurkan hujan semalam, namun digantikan oleh mereka yang kini menyambut dunia dengan pucuk kecil mereka
pagi setelah hujan reda, 
bunga tercantik di taman itu merekah dengan warna jingga nya, seakan ingin secantik mentari di pagi ini, bersolek di hadapan riak kolam yang masih menyisakan air hujan, melihat pantulan dirinya ke arah kolam itu, memastikan kelopaknya berkembang sempurna dengan jingga menawan, memastikan benang sari serta putiknya menjulang tinggi, karena pagi ini ia menunggu kupu-kupu untuk dirayunya
pagi setelah hujan reda, 
bau tanah terasa menyejukkan, membuat siapapun teringat akan hujan semalam, hujan lebat dengan badai serta angin kencang, menghancurkan mereka yang ada di taman, tapi lihat lah pagi ini, setelah hujan reda, mereka bersama tamannya masih seindah sebelum kemarin hujan lebat menghabisi mereka
pagi setelah hujan reda, 
bias embun bersama surya membawa pelangi bersama mereka, membuat burung-burung terpana hingga berkicau indah untuk mereka, seakan tidak pernah ada hujan lebat semalam yang membuat mereka terpaku diam di rumah mungil mereka
pagi setelah hujan reda, 
riak-riak kecil kolam yang masih menyisakan cerita hujan semalam

Jumat, 20 Juni 2014

Missing

Pagi ini, untuk pertama kalinya embun merasa takut, untuk pertama kalinya ia merasa ragu..
untuk turun menghampiri daun itu,
sudah pagi kelima embun merasakan hal ini, sebuah ketakutan yang tidak didasari pikirannya,
sepertinya,
daun itu...tidak ada bersamanya lagi,
meski disaat hujan daun itu tetap menunggunya, meski ditengah badai daun itu setia menantinya...
aneh,
embun merasa ada kesedihan yang mendekat,
atau kekalahan? ataukah kekecewaan?
perasaan embun saat ini, untuk kali pertamanya tidak dapat ia ceritakan pada daun itu...

seakan ada yang hilang ...

pernah disuatu pagi hujan badai menghantam embun untuk pergi dari daun itu,
pernah suatu angin memaksa embun untuk pergi bersama surya lebih cepat
dan pernah disuatu pagi daun itu bergoyang-goyang bersama angin, tetapi terlalu keras, seakan menyiratkan embun untuk segera jatuh ke bumi

perasaan itu kian mendekat, embun merasa takut...
seakan akan ada air mata yang akan jatuh dibalik tetesannya,
dan seakan menambah kebimbangan hatinya saat ini,
disuatu pagi yang lalu, daun itu pernah mengatakan suatu hal kepada embun,
"kamu bisa tanpa aku,"
tidak. embun tidak bisa tanpa daun itu. bagaimana bisa daun itu mengatakannya?
hampir disetiap pagi embun selalu memilih daun itu,
hampir disetiap singkat kehadirannya embun bersama daun itu,
dan hampir disetiap detik sebelum ia dijemput surya, embun selalu berjanji bahwa esok pagi nya akan membawa cerita pada daun itu

ada sesuatu yang hilang ...

disetiap pagi kebersamaan mereka,
embun tetap berada di sisi daun itu namun tidak hatinya, 
karena hatinya terlalu sibuk,
memikirkan perasaan aneh itu ...
ya, perasaan aneh itu kembali muncul...
kesedihan kah? kekalahan? atau kekecewaan? 
ia sangat ingin mengetahui perasaan macam apa ini, namun ia tidak dapat memungkiri bahwa ia terlalu takut untuk mengetahui ..

hingga embun pun tak menghiraukan daun itu yang masih setia menunggunya setiap pagi, 
hingga embun pun tidak lagi memandang daun itu dengan penuh kasih,
dan hingga embun pun menyangsikan daun itu yang masih memeluknya saat ini

embun tidak tahu apa yang hilang ...

tidak, 
mentari tidak mengatakan bahwa daun itu berpaling 
bisikan angin pun tidak menghasutnya bahwa daun itu sudah bosan menemaninya
bahkan surya tidak merasa daun itu berubah,

lalu, perasaan apa ini? apakah ini memang hanya perasaan tak beralasan saja?
tapi mengapa begitu kuat? bahkan semakin kuat disetiap paginya, bahkan semakin menyesakkan baginya,
pelukan daun itu seperti tidak sehangat biasanya,
dan akhirnya embun pun tidak seindah biasanya,

tapi,
apakah benar ada yang hilang?


Selasa, 10 Juni 2014

Selalu Ada Pelangi Yang Datang Setelah Hujan Reda



Selalu ada pelangi yang datang setelah hujan reda
Tidak peduli jika tadi hanya hujan gerimis yang datang atau bahkan badai yang menyertai hujan,
Setelahnya, surya akan menyambut pelangi yang datang perlahan

Selalu ada pelangi yang datang bersama surya
Tidak peduli seberapa ganas hujan yang baru saja reda, atau betapa mengancamnya awan kelabu di sana, pelangi selalu hadir bersama bias hujan

Selalu ada pelangi yang datang membawa bias hujan
Tidak peduli seberapa pelan ia muncul, tidak peduli seberapa singkat ia hadir,
Pelangi selalu percaya, kehadirannya ditunggu

Dan ketika akhirnya, pelangi datang bersama surya dan bias hujan…diselimuti langit biru dan dipayungi awan…pelangi melihat, mereka menunggunya…
Daun yang porak poranda setelah badai… setia menantinya
Ranting dahan yang dipaksa patah oleh petir… senang menyambutnya
Burung-burung yang ketakutan karena deras hujan yang mengganggu tidurnya semalam, kini berkicau memanggilnya
Ya, karena selalu ada pelangi yang datang setelah hujan reda
Dan mereka…daun, ranting dahan, burung-burung dan lainnya bahagia ketika melihat surya dan bias hujan hadir bersama pelangi…menawarkan kedamaian, menghapus duka mereka semalam…

Karenanya …
Selalu ada harapan dibalik cobaan
Selalu ada optimis dibalik persoalan
Selalu ada pelajaran dibalik masalah

Sama halnya pelangi yang datang setelah hujan reda,
Dalam setiap hidup, pasti selalu ada hal positif dibalik hal negative, dan selalu ada hal positif dibalik hal positif…
Harus selalu ada harapan, optimis dan pelajaran dibalik kesedihan dan juga kebahagiaan
Karena kita tidak akan pernah cukup menjadi seseorang yang mampu bersyukur jika kita tidak pernah mempunyai harapan, optimis dan pelajaran dalam setiap kejadian hidup

Dan sama seperti pelangi, 
tidak peduli seberapa lebat hujan semalam, seberapa hebat badai yang berusaha membuatnya takut, atau seberapa keras petir yang mengancamnya mundur... Pelangi tidak pernah mundur selangkahpun,
Karenanya ...
Tidak peduli seberapa berat cobaan yang dipikul
Tidak peduli seberapa sulit persoalan menuntut untuk dijawab
Tidak peduli seberapa tersiksanya kita karena masalah,
Kita percaya…
Semua akan indah pada waktunya ...
Karena selalu ada pelangi yang datang setelah hujan reda ...

Jumat, 06 Juni 2014

Permintaanku Kepada Hujan

Hujan,
Basahi aku, dan bawa aku...
Biarkan aku jatuh ke tanah...
Biarkan aku membentur batu ...
Biarkan aku turun di jalanan ...
atau bahkan jika aku beruntung biarkan aku mengalir bersama sungai,

Pagi ini, aku tidak ingin berada di sisi daun itu, ataupun dijemput Surya,
Aku ingin pergi, melihat dunia luar sana ...
Karena aku iri,
Aku iri mendengar cerita daun yang katanya mengalir bersama sungai, mengelilingi apapun, melihat apapun yang Tuhan ciptakan untuk dunia ...
Aku kesal, mendengar celoteh batu yang katanya takjub bertemu lautan dan betapa bangganya ia bercerita dan memamerkan apapun yang pernah ia lakukan bersama lautan...
Kicauan burung pun membuatku sedih karena ia selalu mengasihiniku yang tidak pernah beranjak dari tempatku ...
Pagi ini,
Biarkan aku jatuh, biarkan aku beranjak, biarkan aku bergerak dari daun itu, 
agar nanti Surya tidak menjemputku ...

Aku ingin pergi, aku ingin beranjak...
Hujan...
Kau tidak akan pernah mengetahui seberapa besar keinginanku saat ini,
Kau tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaanku saat ini,
Aku begitu ingin, saat ingin pergi...sangat ingin beranjak dari tempatku...mengalir bersama derasnya sungai...
Aku ingin membuktikan kepada mereka, daun, bunga, batu, burung, tanah, bahkan Surya, bahwa aku bisa, aku berani beranjak dari daun itu...
Daun itu? Daun itu mengijinkanku, meskipun raut wajahnya tidak dapat menyembunyikan kesedihannya, tetapi aku tahu ia pun ingin aku pergi, karena ia mengerti hal itu lah yang aku impikan...

Dan ketika akhirnya kau mau mengantarku bersama sungai, aku berjanji...
Aku akan melihat apapun yang bisa aku lihat, mendengar apapun yang bisa aku dengar, merasakan apapun yang bisa aku rasakan dari dunia ...
Dan ketika esok paginya aku kembali, kan kubagi kisahku denganmu dan mereka...

Karena meskipun sepelan awan yang bergerak, sesingkat pelangi yang muncul setelah dirimu reda,
embun sepertiku pun berhak untuk menyicip manis dan pahit dunia...
Dan daun itu...
ketika aku kembali padamu, kamu harus berjanji bahwa suatu saat nanti kita harus beranjak bersama dari tempat ini ...

dunia luar yang berada di luar zona nyaman kita saat ini terdengar, terasa, menakutkan sekaligus menantang...
ada keinginan kuat serta ego untuk membuktikan serta menaklukan dunia luar sana...
kita tidak akan pernah tahu apa dan bagaimana dunia yang berada di luar zona nyaman kita jika kita tidak pernah cukup kuat dan nekat untuk beranjak
be moved ...

Kamis, 05 Juni 2014

Gerbera, just like love at the first sight with it

Just like love at the first sight with it,
Jatuh cinta,
Nggak harus sama seseorang kan?
Karena aku jatuh cinta pada ketiganya ini, dalam waktu yang berbeda
Menulis, wedding bell, dan gerbera


Sama seperti jatuh cinta kepada seseorang, ada perasaan suka, attention, interest terhadap ketiganya, namun dengan cara yang berbeda.

Gerbera, adalah hal yang membuatku jatuh cinta baru beberapa hari yang lalu.
Gerbera adalah bunga, dengan warna-warna kuat seperti merah, merah hati, kuning, putih, peach dan masih banyak warna lagi dengan beragam spesies yang ada. Termasuk bunga yang menjadi favorit setelah mawar, anyelir, tulip, dan krisan. Sebenarnya pertemuanku dengan gerbera terjadi empat bulan yang lalu saat adikku membawanya sebagai salah satu hadiah dari temannya. Waktu itu dia membawa gerbera berwarna merah hati, sempurna dengan warna dan kelopaknya, tanpa daun. Warna bunga di setiap kelopaknya kuat dan…entahlah, bunganya membuatku tertarik. Aku pun akhirnya bertanya pada adikku, bunga apa itu. adikku waktu itu ternyata juga tidak begitu yakin apa nama bunga yang saat itu dipegangnya. “Krisan ya? Apa Margold?”
Akhirnya bunga itu layu, tanpa pernah aku tahu apa nama bunganya.
Beberapa hari yang lalu saat membeli bunga dengan seorang teman, melihat begitu banyak bunga yang ada, akhirnya membuatku teringat kembali pada gerbera. Akhirnya aku bertanya pada penjual bunga disana, bunga yang mirip seperti krisan tetapi lebih besar, mirip bunga matahari namun lebih kecil. Penjual itu akhirnya bingung karena memang penjelasanku tidak cukup jelas. Akhirnya aku memutuskan untuk mencarinya sendiri diantara sekian banyak jenis bunga. Aku menemukannya! Dalam sebuah ember di sudut diantara jenis-jenis bunga lainnya. Ya. Bunga itu yang aku cari. Dan akhirnya melalui penjual bunga, aku mengetahui namanya. Bergera.
             Temanku bertanya mengapa aku menyukai gerbera, dan aku menjawab “nggak tau juga, pokoknya suka aja,” ya, aku memang tidak punya alasan spesifik mengapa menyukai gerbera. Padahal mawar menjadi bunga favorit di seluruh dunia, liliy juga tidak kalah cantik, begitu juga dengan mariegold. Hanya saja, melihat gerbera dengan warna yang kuat membuatku merasa ceria dan senang. Seolah-olah ramainya warna-warni gerbera yang kulihat di toko bunga tadi membuatku merasa lengkap bahagia dan bersemangat. Seolah-olah bunganya dengan kelopak yang terbuka, siap menyambut pagi dan matahari.
    Sama dengan jatuh cinta. Pada seseorang. Empat bulan yang lalu untuk pertama kalinya bertemu dengan gerbera dan baru beberapa hari yang lalu akhirnya mengetahui namanya, menyadarkanku bahwa sebenarnya aku sudah jatuh cinta pada gerbera sejak empat bulan yang lalu, hanya saja Tuhan baru mempertemukanku dengan gerbera beberapa hari yang lalu. Begitu juga ketika kita jatuh cinta pada seseorang. Mungkin kita tidak menyadari ketika bertemu dengan seseorang, ketertarikan kita pada orang itu adalah jatuh cinta, dan mungkin saat itu takdir memutuskan bahwa kalian tidak bertemu, berkenalan, dekat, kemudian pacaran saat itu juga. Namun siapa yang akan menyangka waktu? Kita tidak pernah mengetahui dengan siapa, dimana dan kapan kita jatuh cinta, dan tentu pada akhirnya kita juga tidak akan menyangka bahwa suatu saat, di suatu waktu, kita akan bertemu kembali dengan seseorang yang pernah membuat kita tertarik, dan pada akhirnya kita menyadari bahwa dari awal bertemu pun kita sudah jatuh cinta dengannya, karena bahkan kita tidak dapat melupakannya. 
Atau mungkin pertemuan pertama dengannya sama sekali tidak menimbulkan ketertarikan kita, namun ketika waktu akhirnya mempertemukan kembali, dan menyadari bahwa saat bertemu dengannya kita jatuh cinta kepadanya, mungkin justru kita akan sedikit menyesal mengapa tidak pada awal bertemu saja kita sudah jatuh cinta padanya. Ini memang rahasia waktu.