Senin, 02 Juni 2014

Cerminku, Cerminnya, dan Cermin kalian

"seharusnya embun lebih pantas bersama daun disana, atau daun-daun lainnya, namun tidak dengan daun itu"
"seharusnya daun itu tidak perlu menunggu dan menangkap kembali embun yang terlihat sama seperti embun lainnya"
"seharusnya embun mencari daun yang lebih sempurna yang bisa menjaganya, bukan seperti daun itu yang mulai mengering di tepinya"
"seharusnya daun itu bisa bersama bunga yang selalu berada di sampingnya, setiap harinya, bukannya menunggu embun yang hanya datang setiap pagi, bahkan seharusnya daun itu bisa pergi menjelajah dunia bersama angin yang selalu membujuknya"

apapun yang embun dan daun itu lakukan, mereka selalu punya cara untuk menghakimi, menjelekkan, bahkan menyakiti embun dan daun itu, namun...embun dan daun itu selalu paham pelajaran apa yang bisa diambil dari kata-kata mereka.

Cerminku, Cerminnya, dan Cermin kalian
aku sering mendengar kata-kata "bercerminlah pada dirimu."
Jujur, aku sendiri tidak begitu mengerti dengan maknanya. namun mengenai cermin diri yang katanya harus selalu kita lihat, aku akan menyederhanakan maknanya, menurut pandanganku sendiri.
cerminku, pandanganku
cerminnya, pandangannya
cermin kalian, pandangan kalian
pandangan adalah cara mereka melihat, cara mereka berkomentar, mengkritik bahkan mencela, namun bisa juga doa dan nasehat.

aku sendiri selalu membawa cermin, dalam arti sebenarnya. kira-kira baru tiga bulan yang lalu aku selalu membawa cermin sebagai perlengkapan wajib setiap perempuan jika pergi kemanapun. seperti tisu, sisir, hand sanitizer, face paper dan juga cermin, wajib masuk ke dalam tas.
mungkin terkesan narsis, tapi memang sesekali aku akan mengeluarkan cerminku dan melihat wajahku yang terpantul di sana. apa wajahku sudah terlihat berminyak? (maka aku akan mengambil face paperku), apa ada noda di wajahku? (maka aku akan mengambil tisuku) atau rambutku terlihat berantakan? (maka aku akan mengambil sisirku). seolah-olah selama tiga bulan ke belakang cermin merupakan item wajib yang selalu aku bawa.

ketika aku melihat wajahku di cermin dan mendapati wajahku berminyak aku akan mengambil face paperku
ketika aku melihat wajahku di cermin dan mendapati wajahku terdapat noda aku akan mengambil tisuku
ketika aku melihat wajahku di cermin dan mendapati rambutku terlihat berantakan aku akan mengambil sisirku
dan hal sama akan kulakukan ketika aku berkaca pada 'cerminku'
cerminku tidak hanya dilihat oleh aku sendiri, namun juga oleh dia, dan kalian.
setiap hari aku berusaha untuk berkaca pada cerminku. meski aku tahu dia juga melihat melalui cerminnya, dan kalian melihat melalui cermin kalian.
apa aku melakukan kesalahan? apa aku begitu buruk? apa aku memang terlihat berantakan?
banyak hal yang akan aku tanyakan ketika aku bercermin pada 'cerminku' karena terlalu takut pada apa yang dilihat dari cerminnya dan cermin kalian
tapi aku tahu tidak seharusnya aku merasa takut pada cerminnya dan cermin kalian
karena seburuk apapun bahkan sebagus apapun yang dia dan kalian lihat melalui cermin, itu akan merefleksi kembali pada cerminku. Ya, karena apapun bentuk yang dilihat olehnya dan kalian adalah bentuk perhatian.

sama seperti embun dan daun itu. mereka mengerti bahwa apapun yang dikatakan oleh bunga, angin, daun-daun lain, mentari bahkan hujan adalah bentuk perhatian mereka kepada embun dan daun itu.
aku pun sama. aku (berusaha) tidak takut dengan apa yang mereka katakan, aku (berusaha) tidak tersakiti dengan pandangan dan perkataan mereka. karena pandangan mereka akan membantuku untuk melihat diriku sendiri, membantuku untuk introspeksi diri. terlepas mereka benar atau salah. karenanya ketika aku berkaca pada 'cerminku' melihat cerminnya dan cermin kalian, dan memang melihat ada sesuatu hal salah, keliru, buruk, maka aku akan memperbaikinya. seharusnya segala sesuatunya bisa kita lihat dengan kacamata positif bukan?

bukankah menjadi buruk jika aku selalu memperhatikan apa yang dikatakan olehnya dan kalian? bukankah terlihat lemah jika aku selalu berpatokan pada apa yang dikomentari olehnya dan kalian?

tidak.

justru akan menjadi perhatianku dengan seksama ketika aku hanya bercermin pada 'cerminku' dan tidak memperhatikan cerminnya dan cermin kalian.
sama halnya narsis yang muncul ketika kita bercermin (ternyata aku manis juga ya, ternyata rambutku bagus ya dan sebagainya), 'narsis' ketika bercermin pada 'cerminku' juga harus aku hindari.
Ya, fokus hanya pada 'cerminku' dan tidak melihat bagaimana 'cerminnya' dan 'cermin kalian' akan membuatku seolah-olah apa yang dikatakannya dan dikatakan kalian adalah sampah. tidak berguna. hanya akan menjatuhkan. hanya akan mencela dan membuatku jatuh. dan apa yang aku lihat dari 'cerminku sendiri adalah benar, bahkan paling benar.
padahal, tentu kita tahu bahwa tidak semua pandangan seseorang berniat untuk menjatuhkan kita. pandangan orang bisa saja berisikan nasehat bahkan penyelesaian dari masalah kita.
karenanya, aku selalu berusaha menyeimbangkan antara berkaca pada 'cerminku' dan tetap melihat 'cerminnya' dan 'cermin mereka'. karena semakin aku menyeimbangkan ketiganya, maka aku akan menjadi seseorang yang lebih baik setiap harinya karena aku melihat dan menerima diriku sendiri dengan segala kelebihan dan kekuranganku dan juga mendapatkan sebuah bentuk perhatian darinya dan kalian.

terimakasih, untuk Cerminku, Cerminnya, dan Cermin kalian

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar