Kau tahu apa yang paling indah
dari hadirnya pelangi?
Kehadirannya adalah bukti cinta
surya dan bias hujan
Sebagai imbalan atas penantian
lama mereka,
Karena waktu yang selalu
memisahkan mereka,
I love you, who like a flower.
Kehadiranmu seperti bunga di
musim panas
Karena dirimu mengajarkan
padaku bahwa cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu..
Aku percaya bahwa cinta tidak
selalu tentang ‘love at the first sight’, tidak selalu diawali dengan ‘secret
admirer’ atau tidak selalu dimulai dengan tabrakan lalu terpesona pada
pandangan pertama,
Karena aku juga percaya bahwa
cinta bisa hadir seiring berjalannya waktu,
Cinta bisa hadir karena
kenyamanan dan kebersamaan…
You. Who like a flower.
Mengajarkanku bahwa cinta yang
pernah kamu bawa awalnya biasa…
Seperti tunas yang baru muncul
di salah satu tangkai, yang perlahan mulai menampakkan putik dan benang sari…
itu bahkan belum berbentuk seperti bunga, karenanya tidak begitu menarik…
Sama sepertimu…cinta yang waktu
itu kamu bawa…biasa saja, tidak ada yang menarik…
Namun perlahan, kebersamaan
dengan mu mulai terasa,
Seperti tunas tadi yang mulai
tumbuh pelan-pelan…dengan putik dan benang sari yang semakin sempurna, dan
perlahan kelopak merahnya mulai hadir di sisi tunas itu…
Sama sepertimu…cinta yang waktu
itu kamu bawa…mulai terasa aneh, asing, namun menyenangkan…
Sampai akhirnya di suatu waktu,
cinta yang kamu membawa mulai membuatku tersenyum sekaligus tertawa, kesal
sekaligus rindu,
Ya, saat itu aku menyadari
bahwa aku merindukan kebersamaan denganmu, rindu menghabiskan waktu denganmu,
rindu mendengar ceritamu dan rindu dengan tatapan matamu,
Seperti menunggu kehadiran
bunga yang mulai menampakkan kelopak merahnya,
Ada perasaan tidak sabar,
senang sekaligus takut…
Mengapa begitu lama ia? Mengapa
begitu banyak waktu yang diperlukan kelopak itu untuk mengembang sempurna?
Sama sepertimu… cinta yang saat
itu kamu bawa, mulai membuatku rindu…
Sampai akhirnya aku sadar,
bahwa aku mulai nyaman dengan kebersamaanmu,
Seperti melihat bunganya yang
akhirnya tumbuh sempurna,
Dengan putik dan benang sari
sempurna, beserta kelopak merahnya yang mengembang sempurna,
Sama sepertimu… cinta yang saat
itu kamu bawa, membawa kenyamanan yang hadir karena kebersamaan…Perasaan yang
dulu hanya sekilas senang kini lebih berhak aku rasakan. Aku bahagia.
Ya, you like a flower,
karenanya aku mencintaimu…
Ya, aku menyadari bahwa bunga
pun pada akhirnya akan mempunyai masa, sama seperti cinta…
Bunga yang indah pun pada
akhirnya akan membusuk mati, namun tidak sama seperti cinta…
Jangan pernah menyamakannya
bahwa bunga yang pada akhirnya mati akan sama seperti cinta yang pada akhirnya
perlahan memudar karena suatu alasan…
Mungkin beberapa kiasan berhak
untuk mengatakan seperti itu,
Namun bagaimana jika kita ubah kiasannya?
Mengapa tidak kita umpamakan
bahwa seperti bunga yang perlahan mati membusuk sama seperti cinta yang
mengalami surut?
Bahwa tidak selamanya cinta
akan selalu indah, bahwa tidak selamanya cinta akan selalu manis, sama hal nya
seperti bunga yang membusuk kemudian perlahan mati, seperti itulah cinta yang
mengalami surut…
Karenanya,
Sama seperti bunga yang
perlahan membusuk lalu mati, ia akan jatuh, menyatu ke tanah, dan perlahan
mengurai bersama bumi…
Begitu pula cinta,
Bahwa cinta yang mengalami
surut pun ada kalanya, ada tahap yang harus dilewati, ada rintangan yang harus
dilalui…
Pun ketika bunga yang mengurai
bersama bumi, atas perkenanNya tumbuh kembali menjadi tunas kecil, hal itu bisa
sama seperti cinta yang tumbuh kembali bukan?
I love you. Because you like a
flower.
Inspirited by :
Gentlemen Dignity