Minggu, 01 Mei 2016

A Letter For You


1 Mei 2015 dan sekarang sudah 1 Mei 2016
Ternyata setahun berlalu cepat karena kami membiarkan waktu berjalan bagaimana mestinya
Ternyata setahun terasa singkat karena kami tetap menjalani kesempatan hidup yang diberikan Tuhan
Dan ternyata setahun sudah terlewat sejak kepergian seseorang yang begitu kami cintai
Setahun sudah berlalu, dan banyak hal lalu yang kami lewati tanpa kehadiran nyatanya di sisi kami

Setahun tanpa Bapak,
Hampir setiap malam sekarang Komang yang nemenin Ibu tidur. Setiap minggu biasanya Ibu pergi ke renon buat senam jantung sehat. Bapak punya cucu perempuan, Bening udah umur tujuh atau delapan bulan (lupa) sekarang udah bisa merangkak sama berdiri. Mbok tina udah jadi bos di Premagana, Bli ngurah masih berusaha biar jadi Karu ICU Wangaya, doain ya pak. Oh iya, Kadek udah tamat, sekarang masih kerja home care, belum keterima di RS (doain ya Pak). Komang udah pindah kerja di perusahaan cargo, emmm… Yuda udah semester dua, IPK nya juga lumayan bagus. Kadek udah bisa naik mobil tapi bamper belakang sama depan udah tak beretin (maaf ya pak,)

Setahun tanpa Bapak,
Kadek rasa ada hikmah mengapa Tuhan akhirnya memilih Bapak untuk meninggalkan kami dan juga Ibu, karena tuhan tahu bahwa Ibu jauh lebih kuat dan tangguh daripada Bapak. Seinget Kadek, bahkan ketika Bapak meninggal, nggak pernah Kadek lihat Ibu meneteskan air mata. Hingga sekarang. Entah Ibu menangis di belakang anak-anaknya atau tidak, tapi yang pasti Ibu tahu bahwa ia tidak boleh menangis di depan anak-anaknya karena Ibu harus menjadi orang yang kuat demi anak-anaknya. Banyak yang bilang kalau Kadek kuat, tanpa mereka tahu bahwa Kadek punya Ibu yang jauh jauh lebih kuat. Dan semakin lama semakin hari, Kadek tahu Ibu semakin berusaha menikmati hidupnya meskipun kadang-kadang, Ibu ingat dengan cita-citanya setelah pensiun dengan Bapak.

Setahun tanpa Bapak,
Semua yang Kadek lakukan hari ini dan nanti, semuanya buat Ibu karena Kadek nggak sempat memberikan apapun yang terasa pantas buat Bapak. Semua yang Kadek lakukan hari ini dan nanti, semuanya untuk kebahagiaan Ibu karena Kadek belum sempat membahagiakan Bapak sepantasnya. Apapun yang Kadek lakukan hari ini dan nanti akan membuat Ibu bangga karena itu yang Bapak selalu inginkan. Semoga Tuhan mau memberikan umur panjang dan kesehatan buat Ibu, karena masih besar usaha yang harus Kadek lakukan untuk membahagiakan Ibu.

Setahun tanpa Bapak,
Semoga peringatan tahun-tahun berikutnya, Kadek udah bisa buat Bapak jauh lebih bangga. Kadek kangen Bapak. Peluk cium dari sini.

Rabu, 17 Februari 2016

Bersyukur Itu Nikmat Sekali

Kali ini, ijinkan saya untuk membagikan hal yang berada di dalam pikiran dan benak saya. Suatu hal yang sering kali kita hadapi namun sering kali pula kita lupakan. Suatu hal yang sebenarnya mudah untuk kita lakukan namun terkadang lupa untuk kita jalani.
Bersyukur.

Diberikan kesempatan hidup oleh Tuhan selama dua puluh empat tahun, bahkan sampai detik ini tanggal 17 februari 2015 adalah alasan sederhana mengapa saya patut bersyukur setiap detiknya. Banyak hal yang kita lalui baik buruknya seharusnya harus disyukuri. Mungkin ada benarnya dengan seloroh orang Bali yang sering mengatakan “aget kene… aget keto”. Orang yang mengalami kecelakaan yang menyebabkan ia harus mengalami patah tulang pada tangannya, maka orang-orang akan mengatakan “untung yang patah bukan kakinya”. Orang yang kehilangan dompetnya, kehilangan uangnya sebesar 500.000, maka orang-orang mungkin akan mengatakan, “biarpun uangnya hilang, untung SIM sama KTP nya tidak. peristiwa seperti itu menyadarkan saya bahwa seloroh orang Bali tersebut mungkin ada baiknya, karena mengajarkan saya bahwa pada setiap kejadian buruk yang kita alami, kita harus selalu bersyukur dan mengambil sisi positifnya.
Bahkan ketika saya dihadapkan pada sebuah kehilangan dari seseorang untuk selamanya, yaitu ayah saya sendiri, saya pun mendengar seloroh orang-orang disekitar saya yang mengatakan, “untung meninggalnya di kampung”, “untung meninggalnya seperti ini, tanpa sakit yang berkepanjangan, dan tidak menyusahkan keluarganya.” Saat mendengar hal tersebut saya tidak marah namun tidak juga tersenyum. Namun saya mengaminkan (astungkara) kata-kata mereka seraya berpikir, bahwa disetiap kejadian apapun yang terjadi, terlebih pada saat kita sedih, susah, kalah, kita harus tetap bersyukur. Dan ketika saat itu saya terus berusaha bersyukur dan ikhlas atas kehilangan yang saya alami, saya tahu saya semakin kuat.
Sangat sulit untuk bersyukur, ketika kita berada di posisi di bawah. Orang-orang cenderung melupakan untuk bersyukur ketika mereka berada di bawah sehingga hal itu pula yang menyebabkan mereka sulit untuk menapaki roda kehidupan mereka kembali. Itulah yang saya alami. Ketika saya gagal untuk memenangkan sebuah lomba penulisan essay, dengan sebuah harapan tinggi karena bagi saya usaha yang saya lakukan sudah seoptimal mungkin, disaat itulah saya mengakui bahwa Tuhan belum memberikan jalan bagi saya untuk menang. Sangat sulit untuk menerima kekalahan saya saat itu. walaupun di depan teman-teman saya tersenyum, namun dalam hati saya masih tidak menerima kekalahan saya. Saya sama sekali tidak bisa mengambil sisi positif dari kekalahan saya apalagi bersyukur. Namun toh pada akhirnya, saya menyadari bahwa setiap kesedihan atau kekalahan yang saya alami, saya belajar untuk bersyukur. Selama dua puluh empat tahun saya diberikan kesempatan hidup, Tuhan memberikan saya semuanya, baik buruknya, sedih senangnya untuk saya hadapi sehingga saya lambat laun belajar, bahkan dikeadaan paling terbawah pun, meski sulit, saya harus bersyukur.
Bersyukur membuat saya jengah bahwa seperti ini kehidupan saya, yang mungkin terkadang saya keluhkan karena tidak ini dan tidak seperti itu, masih banyak sangat banyak orang-orang diluar saya yang memiliki kehidupan yang jauh lebih kurang daripada saya, dan bahkan menginginkan kehidupan seperti saya, dan mereka tetap bersyukur. Saya kehilangan ayah saya pada Mei 2015 kemarin, namun bahkan ada teman saya yang bahkan sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Saya bersekolah hingga S1, diluar sana banyak teman-teman saya yang sangat bersyukur bisa bersekolah hingga SMA. Saya pernah gagal dalam sebuah sesi wawancara kerja, namun diluar sana bahkan masih ada mereka yang sama sekali belum pernah diberi kesempatan untuk melakukan wawancara kerja.
Maka, hal-hal kecil yang selalu terjadi disetiap detik saya hidup, menyadarkan saya, bahwa bersyukur adalah cara sederhana untuk merasa bahagia, dan ketika hati mulai merasa kesal dengan kondisi saya atau nasib yang saya alami, saya selalu mengingat bahwa banyak diluar sana, mereka yang keadaannya lebih buruk daripada saya. Apa yang saya ungkapkan dalam tulisan saya ini sederhananya hanya agar suatu saat ketika saya mulai lupa untuk bersyukur, dengan membaca tulisan ini saya kembali mengingat bahwa hal-hal yang sudah saya lalui dengan baik itu karena Tuhan berada di samping saya.
Terus menerus diberikan oleh Tuhan, mengajarkan dan menyadarkan saya bahwa bersyukur itu nikmat sekali.

Kamis, 26 November 2015

Dear Bapak

“Masak Bapaknya aja S2 tapi anaknya cuma S1”
“Kadung Bapak jual giginya Bapak, kalau kamu mau lanjut kuliah S2 akan Bapak biayai. Kebanggaan Bapak bukan uang atau kekayaan, tapi kebanggaan Bapak ngeliat anak-anaknya Bapak sukses dalam pendidikan. Uang atau kekayaan nggak dibawa mati Dek, tapi ilmu, sampai kapanpun akan dibawa dan jadi kebanggan.”

Ia pernah berjanji, jika aku menginginkan, ia akan berusaha dengan segala cara untuk menyekolahkan aku S2 …

Dear Bapak,
Tanggal 20 November kemarin, Kadek sudah di wisuda. Ya.. Bapak pasti liat Kadek kan? Kadek dianter Ibu, Komang sama yuda. Padahal baru oktober atau November tahun lalu ya, Kadek, Ibu sama Bapak nganter Komang... tapi sekarang posisinya Bapak digantiin yuda.
Bohong namanya kalau Kadek nggak sedih Bapak nggak bisa sama Kadek, tapi toh juga Bapak udah ngeliat Kadek dari sana,
IPK nya Kadek 3,14 pak, kecil ya? Are you disappointed with me? Of course, but I swear that I have been trying as strong as I can.
Bapak masih inget nggak? Waktu SD Bapak sering ngajak Kadek ma Komang ke toko buku Garuda Wisnu? Terus Bapak beliin Kadek ma Komang buku, buku pelajaran sama buku cerita.. ya sekarang Kadek tahu kenapa Kadek jadi suka baca,
Bapak masih inget nggak? Ada surat yang nyelip di dashboard mobilnya Bapak? Surat permintaan maaf dari Kadek karena udah ngecewain Bapak, karena Kadek dapet ranking 14 pas SMP,
Bapak masih inget nggak? Bapak sedih waktu Kadek nggak lulus TPA di SMA 3, terus berusaha masukin Kadek lewat prestasi tari biar masuk SMA 3,
Bapak masih inget nggak? Kita sama-sama bayar uang pembangunan 18.950.000 ke bank Mandiri Merdeka, karena Kadek masuk PSIK …
It has been long time ya,
I am so blessing to be his daughter.
Ia tidak pernah mengatakan tidak, asalkan itu untuk pendidikan
Ia tidak pernah mengeluhkan biaya, asalkan itu untuk belajar anaknya
Ia tidak pernah sekalipun membuat anaknya cemas untuk meminta uang asalkan itu untuk kepentingan sekolah.
Ia bahkan jauh lebih mengedepankan biaya buku anaknya daripada kepentingan dirinya untuk membeli kaos kaki.
Terima kasih Bapak, untuk semua kasih sayang dan usahanya untuk menyekolahkan Kadek. Terima kasih Bapak untuk setiap rupiahnya yang keluar untuk membayar sekolahnya Kadek, dan terima kasih Bapak untuk setiap doa yang terucap dari Bapak untuk Kadek…

Nb. Tanggal 24 kemarin, Kadek pelantikan Ners, terus ada acara sambutan orang tua, yang maju Bapak temennya Kadek, terus tiba-tiba Kadek nangis, kayak ngelihat Bapak yang lagi ngomong, ngasi ucapan terima kasih dan rasa bangga sama anaknya. Tapi toh juga biarpun Bapak nggak ada sama Kadek, Bapak juga udah ngeliat Kadek dari sana. Pas nulis ni juga Kadek nangis, yah Kadek kan emang nggak pernah janji buat nggak nangis lagi, namanya juga kangen sama Bapaknya.

Kadek cantik nggak Pak?
“Cantik, anaknya Bapak paling cantik.”
Bapak pasti bilang gitu kan?

Jumat, 07 Agustus 2015

1 Mei 2015

“Nanti kalau kadek mau pelatihan HD, berapa pun biayanya Bapak pasti bayarin. Biar nggak Komang aja yang Bapak kasih sekolah S2, masak Kadek minta uang 8 juta aja Bapak nggak ngasi, pasti Bapak ngasi.”

“Ngantuk pak? Sini kadek yang bawa mobilnya,”
“Jangan, ntar aja kalau udah tamat, Bapak kasi dah bawa mobilnya.”

“Ih, enak ternyata minuman kopinya Dek, ilang ngantuknya Bapak jadinya, ntar setiap pulang ke Sukawana, kalau ngantuk Bapak beli ini aja, apa nama minumannya ni?
“Kopiko 78˚ pak"

“Masih jauh nggak rumahnya pak?”
“Kamu, baru gitu aja ngeluh, udah cuma punya Wak tinggal satu, sekarang udah meninggal, kasihanin apa,”
“Iya, gimana men pak, namanya juga orang, pasti melewati tiga fase, lahir hidup mati.”
“Iya sih,”


1 Mei 2015, aku tidak pernah menyangka bahwa hari itu adalah hari yang paling menyedihkan yang pernah aku alami selama 23 tahun aku ada. Ya, kehilangan orang yang sangat aku cintai. Satu-satunya pria yang mencintai aku, satu-satunya pria yang tidak pernah membuatku menangis, satu-satunya pria yang selalu berusaha membuatku bahagia. Aku dan keluargaku. Aku dan juga ibu, kakak dan adikku.
1 Mei 2015, aku tidak pernah menyangka bahwa hari itu adalah hari terakhir aku melihatnya, hari terakhir aku berbicara padanya, hari terakhir aku memeluk dan menciumnya. Aku tidak pernah menyangka aku lah yang melihat napas terakhirnya, aku yang berusaha membuatnya tetap hidup dan bernapas namun akhirnya gagal. Melihatnya akhirnya meninggalkan dunia di pelukanku, saat itu yang masih aku ingat, aku hanya bisa menangis dan memanjatkan doa mantram Gayatri. Bibirku tidak henti memanjatkan mantra itu sebagai pengantar agar beliau dapat beristirahat dengan tenang dan damai walau hatiku saat itu sangat hancur. Aku tidak pernah merasa sehancur itu. Namun percayalah, saat pertama kali tahu bahwa beliau meninggal sampai akhirnya beliau menyatu dengan bumi, tidak pernah sekalipun bibirku mengatakan padanya bahwa ia jahat, bahwa betapa teganya beliau meninggalkan kami begitu cepat, saat aku merasa belum pernah sekalipun membalas apa yang sudah ia berikan kepadaku. Aku pun tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa Tuhan jahat, tidak pernah. Walau sehancur-hancurnya aku saat itu, aku tetap percaya ini sudah jalan terbaik yang diberikan Tuhan, walaupun sampai saat ini aku masih tidak tahu hal baik apa yang bisa aku terima dari kehilangan seorang ayah.
Akan banyak momen yang mengingatkan aku padanya. Ini sudah tiga bulan sejak kepergian beliau, dan selama itu pula saat aku merindukannya, aku akan berdoa untuknya dan.. ya aku akan menangis. Tidak, bukan karena aku belum ikhlas atas kepergian beliau, aku sangat ikhlas, hanya saja aku memang tidak pernah berjanji untuk berhenti menangis, aku akan menangis saat mengingatnya, akan selalu.
Aku mengingatnya yang selalu duduk di sofa ujung di ruang keluarga kami untuk menonton metro TV atau TV1, aku mengingatnya yang selalu menyuruhku mengambilkan air untuknya minum obat, aku mengingatnya yang selalu menyuruhku untuk membuat susu diabetasol, aku mengingatnya yang sangat manja ketika sedang sakit dan selalu memintaku untuk memijatnya, dan yang hal termanis yang akan selalu ingat, beliau yang selalu khawatir ketika anaknya belum pulang diatas jam10 malam dan tidak akan tidur sebelum anaknya pulang. Dan ketika anaknya pulang kemalaman, ia akan bertanya, “kok malem pulangnya? Udah makan?” lalu beliau akan pergi untuk mengunci pintu.
Setiap ayah adalah pria terbaik bagi anaknya, terlebih bagi anak perempuannya, menurutku. Dan beliau adalah pria terbaik yang pernah aku miliki. Ketika dia meninggal, dan tidak ada hentinya aku menangis saat itu, aku merasa malu karena sebelumnya pernah mengeluarkan air mata untuk laki-laki lain yang telah menyakitiku, seolah-olah harusnya aku tidak pantas menangis untuk mereka karena justru beliau satu-satunya laki-laki yang bahkan sekalipun tidak pernah menyakitiku akhirnya meninggalkan ku selamanya
Rasanya masih terasa aneh, ketika di rumah menemukan tidak ada beliau karena aku masih ingat spot-spot tempat yang biasa aku temukan ketika aku pulang ke rumah. Namun aku percaya, beliau selalu melihat kami di sana, di sisi Tuhan beliau melihatku, ibu, kakak dan adik, bahwa hanya ruang dimensi yang memisahkan kami, bahwa hanya saja aku sudah tidak bisa lagi melihatnya, memeluknya dan mencium tangannya, tapi setidaknya kami tahu kami bisa saling mendoakan. Beliau mendoakan kami disini agar selalu diberi perlindungan Tuhan, sedangkan kami mendoakan beliau agar damai di sisi Tuhan.
Ini kali pertama setelah lebih dari enam bulan aku kembali menulis di blog ku, dan memposting suatu hal yang dirasa menyedihkan untuk dibaca kembali nanti. Namun aku sendiri tidak masalah, karena ketika suatu saat aku melihatnya kembali, mungkin aku akan kembali menangis, namun aku tahu aku sudah melewatinya dengan hebat bersama keluargaku, dengan dukungan teman-teman yang menyayangiku. Dan berharap bahwa siapapun yang membacanya, pada akhirnya kita harus bersama-sama menyadari bahwa waktu bersama keluarga sangat berharga, kita memang bertambah dewasa dengan umur kita namun kita harus sadar bahwa orang tua pun bertambah tua.
Satu hal yang aku pelajari atas 1 Mei 2015 kemarin, bahwa meninggalkan atau ditinggalkan hanya masalah waktu.

Rabu, 31 Desember 2014

Halaman Pertama di 2015

Setiap orang akan selalu berpaling ke belakang untuk melihat apa yang telah mereka lewati selama setahun, dan aku berharap sebagian dari mereka akan tersenyum saat mereka berpaling, mem-flash back apa yang pernah mereka lewati dan bangga karena mereka telah berhasil melewati 2014 dengan hebat. Aku sendiri adalah orang yang di penghujung tahun 2014 kemarin, berpaling ke belakang untuk sekedar melihat apa saja yang pernah aku lewati.. dan aku tersenyum.
2014 menjadi tahun yang hebat bagiku. Sangat amat hebat. Karena 2014 mengajarkanku untuk menjadi lebih kuat dan tangguh dan aku berterimakasih karenanya. 2014 pun mengajarkanku untuk lebih mengenal diriku sendiri karena akhirnya aku sadar, langkah awal seseorang untuk menjadi lebih baik daripada sebelumnya adalah bagaimana ia mampu memahami dirinya sendiri dan aku sangat amat belajar bagaimana karakter, sifat buruk, dan kebiasaan yang harus aku hindari.
Di penghujung tahun 2014 kemarin seperti biasa aku habiskan bersama keluarga, namun uniknya entah kenapa tiba-tiba terbersit keinginanku untuk membersihkan dan merapikan kamarku, mulai dari lemari pakaian hingga meja yang penuh dengan tumpukkan buku. Aku tertawa kecil karena aktivitasku bisa dianalogikan seperti seseorang yang membersihkan dan membereskan segala sesuatunya di tahun 2014. Kebahagiaan dan harapan yang pernah ada aku rapikan untuk aku bawa di tahun 2015. Segala kesedihan yang membuatku menangis dan terpuruk aku simpan dalam kotak untuk aku tinggalkan, namun tidak aku tinggalkan pelajaran berharga di dalamnya karena akan aku masukkan dalam kantung bajuku untuk kubawa berjalan di sepanjang tahun 2015.
2014 bagiku seperti menaiki roller coster, dimana perlahan kamu naik seiring dengan kebahagiaan, namun secepat itu pula kamu diturunkan bersama kesedihan. Tapi aku sadar, kebahagiaan dan kesedihan memang selalu berdampingan bukan? Karenanya aku tidak bermaksud besar kepala dengan mengatakan aku bangga atas apa yang telah aku lewati selama tahun 2014. Aku tersenyum bahkan tertawa ketika mengingat apa yang pernah terjadi karena aku sadar aku telah melewatinya dengan kuat dan tangguh. Dan ya, aku tahu aku tidak akan mampu melewati semua tanpa mereka.
Tahun kemarin membuatku jauh lebih dekat dengan kakak dan adik kandungku. Sebuah peristiwa besar bahkan terselip di tahun kemarin ketika seseorang yang bersamamu hampir di seperempat abad usiamu, pada akhirnya menemukan pendamping hidupnya. Ya, she’s got married. Lucu karena ini benar-benar skenario Tuhan, disaat kakakku tengah disibukkan dengan persiapan pernikahannya, namun disaat itu juga ia jauh lebih ingin dekat dengan kami, hampir bersamaan pula dengan kesedihanku.
 Saat itu aku akhirnya sadar, terlepas seberapa keras mereka, saudara adalah mereka yang jauh lebih mengenal karaktermu dibandingkan orang lain, jauh lebih menyayangimu dibandingkan orang lain, dan mereka adalah orang pertama yang akan berdiri di depanmu saat tahu bahwa kamu disakiti. Dan aku beruntung karena meski terlambat menyadari, saudara adalah mereka yang akan selalu hadir kapan pun aku membutuhkan mereka.
2014 juga mengajarkanku arti penting dari sahabat dan benar-benar membuktikan pada diriku sendiri bahwa mereka tidak hanya hadir saat aku bahagia namun juga pada saat aku sedih. Aku beruntung memiliki mereka. Mereka adalah sahabat yang tidak perlu menjadi posesif untuk membuktikan bahwa mereka menyayangi kita, tidak perlu menjadi sahabat yang selalu mengucapkan ‘I miss you’ untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar merindukan kita. Mereka adalah sahabat yang tetap diam meski mereka tahu, mereka adalah sahabat yang tahu namun tetap menunggu sampai akhirnya aku bercerita. Dan aku percaya kapanpun aku memerlukan mereka, mereka akan selalu ada. Mereka membuatku belajar untuk tidak menjadi egois and I don’t want make them cry anymore because me.
Di tahun 2014 aku belajar bahwa segalanya sesuatunya selalu membutuhkan proses, tidak semua bisa dijadikan instan, dan bahwa dalam beberapa hal ada sesuatu yang harus diperjuangkan dan tidak bisa didapatkan dengan mudah. Aku pun belajar, bahwa menjadi seseorang yang naïf akhirnya menjadi boomerang sendiri bagiku, bahwa seseorang yang dulunya sering membuatmu tertawa keras pada akhirnya menjadi seseorang yang membuatmu menangis keras.
Sampai akhirnya beberapa hari menjelang 2104 berakhir aku sadar, salah satu cara untuk membuatnya terasa jauh lebih ikhlas dan mengalir adalah bahwa aku harus terus mengingat kebaikan yang pernah mereka lakukan untukku, mengingat saat dulu saat aku pernah menyayangi mereke dan bersimpati untuk mereka, bahwa apa yang mereka jalani jauh lebih berat dibandingku dan masalah yang mereka hadapi lebih sulit dibandingkan aku, dan sampai saat ini pun aku bersimpati untuk mereka. Setiap orang pasti melakukan kesalahan, begitupun aku. Karenanya aku sudah berdamai dengan masa lalu, dan sudah memaafkan diriku sendiri. Sebuah langkah kecil untuk move J
Ah ya, tahun ini ditutup dengan kado manis dari Tuhan, my dream come true. Novel pertamaku terbit. This Guy Is Mine seolah-olah menjadi vitamin disaat-saat penyembuhanku and I am really bless bahwa usahaku selama dua tahun akhirnya berbuah manis. Sangat manis. I hope I can be an author.  J
And then… here I am, dihari pertama tahun 2015, Kamis 1 Januari, menulis kembali akhirnya di blog pribadiku, seperti sebuah halaman baru untuk mengawali 2105. J
RESOLUSI…
Hmmm… ada banyak sekali resolusi untuk tahun ini, namun yang pertama tentu aku harus berterimakasih pada Tuhan untuk 2014 yang hebat dan karena masih diberikan kesempatan di tahun 2015. Keluargaku, perlindungan dan kesehatan. Orang-orang yang aku sayangi semoga selalu diberikan perlindungan. Karir, semoga kami angkatan vortphilization lancar profesi hingga wisuda nanti, dan aku berharap bisa menghasilkan karya kedua di tahun ini J. That’s mine, how about yours?