Rabu, 17 Februari 2016

Bersyukur Itu Nikmat Sekali

Kali ini, ijinkan saya untuk membagikan hal yang berada di dalam pikiran dan benak saya. Suatu hal yang sering kali kita hadapi namun sering kali pula kita lupakan. Suatu hal yang sebenarnya mudah untuk kita lakukan namun terkadang lupa untuk kita jalani.
Bersyukur.

Diberikan kesempatan hidup oleh Tuhan selama dua puluh empat tahun, bahkan sampai detik ini tanggal 17 februari 2015 adalah alasan sederhana mengapa saya patut bersyukur setiap detiknya. Banyak hal yang kita lalui baik buruknya seharusnya harus disyukuri. Mungkin ada benarnya dengan seloroh orang Bali yang sering mengatakan “aget kene… aget keto”. Orang yang mengalami kecelakaan yang menyebabkan ia harus mengalami patah tulang pada tangannya, maka orang-orang akan mengatakan “untung yang patah bukan kakinya”. Orang yang kehilangan dompetnya, kehilangan uangnya sebesar 500.000, maka orang-orang mungkin akan mengatakan, “biarpun uangnya hilang, untung SIM sama KTP nya tidak. peristiwa seperti itu menyadarkan saya bahwa seloroh orang Bali tersebut mungkin ada baiknya, karena mengajarkan saya bahwa pada setiap kejadian buruk yang kita alami, kita harus selalu bersyukur dan mengambil sisi positifnya.
Bahkan ketika saya dihadapkan pada sebuah kehilangan dari seseorang untuk selamanya, yaitu ayah saya sendiri, saya pun mendengar seloroh orang-orang disekitar saya yang mengatakan, “untung meninggalnya di kampung”, “untung meninggalnya seperti ini, tanpa sakit yang berkepanjangan, dan tidak menyusahkan keluarganya.” Saat mendengar hal tersebut saya tidak marah namun tidak juga tersenyum. Namun saya mengaminkan (astungkara) kata-kata mereka seraya berpikir, bahwa disetiap kejadian apapun yang terjadi, terlebih pada saat kita sedih, susah, kalah, kita harus tetap bersyukur. Dan ketika saat itu saya terus berusaha bersyukur dan ikhlas atas kehilangan yang saya alami, saya tahu saya semakin kuat.
Sangat sulit untuk bersyukur, ketika kita berada di posisi di bawah. Orang-orang cenderung melupakan untuk bersyukur ketika mereka berada di bawah sehingga hal itu pula yang menyebabkan mereka sulit untuk menapaki roda kehidupan mereka kembali. Itulah yang saya alami. Ketika saya gagal untuk memenangkan sebuah lomba penulisan essay, dengan sebuah harapan tinggi karena bagi saya usaha yang saya lakukan sudah seoptimal mungkin, disaat itulah saya mengakui bahwa Tuhan belum memberikan jalan bagi saya untuk menang. Sangat sulit untuk menerima kekalahan saya saat itu. walaupun di depan teman-teman saya tersenyum, namun dalam hati saya masih tidak menerima kekalahan saya. Saya sama sekali tidak bisa mengambil sisi positif dari kekalahan saya apalagi bersyukur. Namun toh pada akhirnya, saya menyadari bahwa setiap kesedihan atau kekalahan yang saya alami, saya belajar untuk bersyukur. Selama dua puluh empat tahun saya diberikan kesempatan hidup, Tuhan memberikan saya semuanya, baik buruknya, sedih senangnya untuk saya hadapi sehingga saya lambat laun belajar, bahkan dikeadaan paling terbawah pun, meski sulit, saya harus bersyukur.
Bersyukur membuat saya jengah bahwa seperti ini kehidupan saya, yang mungkin terkadang saya keluhkan karena tidak ini dan tidak seperti itu, masih banyak sangat banyak orang-orang diluar saya yang memiliki kehidupan yang jauh lebih kurang daripada saya, dan bahkan menginginkan kehidupan seperti saya, dan mereka tetap bersyukur. Saya kehilangan ayah saya pada Mei 2015 kemarin, namun bahkan ada teman saya yang bahkan sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Saya bersekolah hingga S1, diluar sana banyak teman-teman saya yang sangat bersyukur bisa bersekolah hingga SMA. Saya pernah gagal dalam sebuah sesi wawancara kerja, namun diluar sana bahkan masih ada mereka yang sama sekali belum pernah diberi kesempatan untuk melakukan wawancara kerja.
Maka, hal-hal kecil yang selalu terjadi disetiap detik saya hidup, menyadarkan saya, bahwa bersyukur adalah cara sederhana untuk merasa bahagia, dan ketika hati mulai merasa kesal dengan kondisi saya atau nasib yang saya alami, saya selalu mengingat bahwa banyak diluar sana, mereka yang keadaannya lebih buruk daripada saya. Apa yang saya ungkapkan dalam tulisan saya ini sederhananya hanya agar suatu saat ketika saya mulai lupa untuk bersyukur, dengan membaca tulisan ini saya kembali mengingat bahwa hal-hal yang sudah saya lalui dengan baik itu karena Tuhan berada di samping saya.
Terus menerus diberikan oleh Tuhan, mengajarkan dan menyadarkan saya bahwa bersyukur itu nikmat sekali.