My head's under water
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind
'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh
But I'm breathing fine
You're crazy and I'm out of my mind
'Cause all of me
Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning
'Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh
Pagi itu di salah satu tangkai pohon,
Embun melihat sahabatnya tengah berkicau,
Burung terlihat bahagia, dengan suara merdu yang ia punya, berkicau menyanyikan syair demi syair lagu untuk kekasihnya.
Sesekali wajahnya memerah..
Entahlah,
Apa karena ia terlalu bahagia ataukah justru ia malu karena kenyataan yang menghantamnya,
Kekasihnya tidak lagi berada disisinya...
Ya.
Burung itu tidak secantik biasanya...
Aku, kamu, kita semua mengetahui bahwa dunia selalu berada pada sisi tengah diantara dualitas. Positif dan negatif, kebahagiaan dan kesedihan, kemenangan dan kekalahan, cinta dan benci, sahabat dan musuh, dan...masih banyak lagi dualitas di dunia yang bisa sama-sama kita jabarkan. Ya, kita semua mengetahuinya, dan semua contoh dualitas yang aku sebutkan di atas kita alami semua. Tapi sudahkah kita memahaminya semua?
Kebahagiaan bukan lawan dari kesedihan, begitu pun dengan dualitas lainnya. Karenanya aku menggabungkan kedua kata itu dengan kata 'dan' bukan 'versus'.
Mengapa? Ya, karena setiap dualitas di dunia tidak dapat dipisahkan. Mereka akan selalu ada silih berganti dalam setiap kehidupan kita. Hari ini kita bahagia, namun siapa yang akan tahu bahwa menit berikutnya kesedihan akan datang menghampiri kita. Hari ini kita memenangkan perlombaan, namun siapa yang akan tahu apakah di perlombaan berikutnya kita akan tetap menang?
Ya. Kehidupan seperti roda berputar, kita yakin suatu saat roda kehidupan kita akan berada di atas, namun kita juga harus ikhlas bahwa suatu hari roda kita akan berada di bawah.
Sebuah buku mengajarkanku bahwa semua dualitas bukan sebuah lawan. Sekali lagi, kebahagiaan bukan lawan dari kesedihan. Mereka akan datang bergantian, dan yang dapat kita lakukan terhadap dualitas itu adalah memeluknya.
Tidak. Kita tidak menggenggam erat kebahagiaan, dan menendang jauh kesedihan. Kita memeluknya. Buku itu memberitahuku bahwa hal sederhana yang dapat membuat seseorang menderita adalah justru ketika ia tidak rela melepaskan sesuatu yang seharusnya memang harus terlepas, dan ia tidak mau menerima sesuatu yang seharusnya ia terima. Sama halnya dengan dualitas kebahagiaan dan kesedihan. KIta semua menyadari atau tidak, setiap orang ingin menggenggam erat kebahagiaan, kemenangan dan lainnya, namun ia menolak dan menendang jauh kesedihan dan kekalahan. Itu yang membuat seseorang menderita. Menolak kesedihan, kekalahan, sama halnya menolak siang yang harus berganti malam.
Kisah burung itu contohnya,
Ya. burung itu mencintai kekasihnya, burung itu pernah mempunyai kenangan manis bersama kekasihnya dan tidak ingin berpisah pada kekasihnya. Karenanya burung itu bernyanyi untuk kekasihnya, berusaha membujuknya untuk kembali padanya. Sekuat yang ia mampu, ia akan berusaha sampai kekasihnya itu kembali ke pelukannya.
Ya. Aku setuju jika ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa cinta harus diperjuangkan. Namun, hal yang paling membingungkan dari cinta itu sendiri adalah ketika kita berada pada pilihan, haruskah kita bertahan? Atau pergi? dan sampai kapan?
Ya. Burung itu memilih untuk bertahan, ia berjuang.
"Aku yakin, kekasihku akan kembali. Aku yakin, kita akan kembali bersama. Aku yakin ia masih mencintaiku. Aku yakin kita akan kembali bahagia."
Tanpa burung itu sadari,
Bahwa itulah yang membuat burung itu menderita. Ia, menggenggam kuat kebahagiaannya, cintanya untuk kekasihnya. Menyangkal bahwa perlahan kebahagiaan itu surut seiring dengan kesedihan yang datang kepadanya.
Percaya.
Bahwa ketika kita melepaskan kebahagiaan dan menerima kesedihan yang datang, kita akan jauh lebih lega, lebih lepas, dan lebih tenang.
Ikhlas. Adalah suatu hal yang dipelajari saat kita merelakan semuanya, datang dan pergi. Maka hati akan terasa jauh lebih damai.
Karena kita memeluk keduanya, bukan menggenggam erat satunya dan menendang jauh satunya lagi.
Akan lebih baik jika burung merelakan kekasihnya pergi. Merelakan bahwa cinta mereka harus berakhir dan menyadari bahwa kekasihnya tidak akan kembali untuknya. Maka, semuanya akan jauh terasa lebih mudah untuk dijalani. Burung akan memulai perjalanan barunya, menikmati kesedihan yang menghampirinya. Takdir yang memang harus dijalani oleh burung pun tidak akan dipersulit.
Burung itu bahkan kita semua harus percaya ketika kesedihan menghampiri kita bukankah nanti ada kebahagiaan yang akan datang juga?
Kebahagiaan dan kesedihan dalam satu pelukan.
Karena menggenggam erat kebahagiaan sama halnya menggengggam erat pasir. Cepat atau lambat, perlahan, pasir di tangan akan habis juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar