Hujan
gerimis pagi ini seakan menghapus keraguan embun
Apa
yang dilihatnya,
Apa
yang dirasakannya,
Masih
sama …
Tatapan
daun itu masih menguncinya…
Pelukan
daun itu masih untuknya…
Daun
itu tidak pernah sedikitpun beranjak dari rasa pertamanya,
Ia
masih dan akan selalu ada untuk embun,
Embun
itu tidak bermaksud menyangsikan daun itu…
Hanya
saja kata-kata bunga jingga masih membekas di hatinya…
Ia
merasa rapuh,
Karena
apa yang diucapkan bunga jingga ada benarnya,
Ya,
memangnya siapa dia?
Namun
hujan gerimis pagi ini seakan menghapus kebimbangannya…
Ia
memang sekejap hadir dalam hari-hari daun itu…
Namun
tidak pernah sekalipun ia meragukan apa yang ia bisa berikan untuk daun itu…
Setitik
kesejukannya, tulus ia berikan…
Lagipula,
tidak bisakah ini disebut cinta yang tulus?
Karena
ia dan daun itu menjalani semuanya dengan sederhana
Bagai
kerikil yang hanyut pelan terbawa arus sungai
Lagipula,
tidak bisakah ini disebut cinta yang sederhana?
Karena
mereka, embun dan daun itu sama-sama belajar mencintai kelebihan dan kekurangan
satu sama lain
Dan
karena mereka sama-sama belajar untuk setia, menanti, hingga fajar kembali
mempertemukan mereka ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar