daun itu tidak selamanya disana menunggumu embun
daun itu tidak selamanya disana menanti kehadiranmu embun
entah karena dia sudah layu dan akhirnya sudah jatuh ke tanah,
atau ternyata ia lebih bahagia menyambut datangnya hujan ..
dibandingkan dirimu ...
tidak kah kau takut?
bahwa setiap paginya terlintas di pikiran daun itu untuk meninggalkanmu?
tidak kah kau cemas?
bahwa setiap malamnya mungkin ia pernah berencana untuk tidak menunggumu esok paginya?
bahkan tidak kah kau pernah membayangkan?
bahwa bisa saja saat kau berada di pelukannya, hanya raganya saja yang memelukmu namun jiwanya tidak
astaga,
mengapa dirimu merasa begitu berarti bagi daun itu?
memangnya siapa dirimu?,
ragamu hanya sementara di dunia,
dirimu hanyalah buah hati surya yang manja,
yang patuh kapan harus datang, dan tunduk kapan dirimu harus ikut pulang...
kehadiranmu bahkan sama seperti sepoi angin...tidak berarti,
saat kata daun itu dirimu memang sejuk memeluknya,
tahu kah kau betapa jauh menyejukkannya tetesan hujan?
tidak.
apa yang kau ketahui embun?
tahukah kau dengan siapa daun itu menghabiskan siang hingga senja?
bersamaku.
tahukah kau bagaimana daun itu bertahan di terik mentari atau lebatnya badai?
aku tahu.
aku yang selalu di sampingnya, bukan dirimu. aku yang selalu tahu kisahnya setiap hari, bukan dirimu. aku yang tahu bagaimana cerah hijau tubuhnya, bukan dirimu. bahkan aku yang tahu bagaimana pinggirnya mulai cokelat dan mengering, bukan dirimu.
apa kau tahu bagaimana daun itu menghabiskan malam?
menatap langit malam seperti orang bodoh,
bercerita tentangmu kepada bulan dan bintang seperti orang gila,
menantimu hingga fajar menyingsing seperti orang idiot,
seharusnya ia dapat sejenak memejamkan matanya, namun tidak ia lakukan karena dirimu.
memangnya siapa kau?
apa kau tahu bahwa itu adalah sekian kecil dari sekian banyak hal bodoh yang dilakukan daun itu demi dirimu?
apa yang kau tahu memangnya?
disaat daun itu terus menantimu dari fajar hingga senja,
kau sendiri sedang terlelap nyenyak dalam pelukan surya.
embun manja yang tidak mengenal pahitnya dunia sini, atau bahkan sulitnya perjuangan yang dilakukan daun itu.
demi dirimu...
daun itu tidak selamanya disana menunggumu embun
daun itu tidak selamanya disana menanti kehadiranmu embun
entah karena dia sudah layu dan akhirnya sudah jatuh ke tanah,
maka, seharusnya kau takut,
adakah alasanmu untuk merasa berarti bagi daun itu?
tidak.
adakah alasan daun itu untuk tetap bertahan menantimu?
seharusnya tidak.
-Suatu Pagi Kata Bunga Jingga Itu-
daun itu tidak selamanya disana menanti kehadiranmu embun
entah karena dia sudah layu dan akhirnya sudah jatuh ke tanah,
atau ternyata ia lebih bahagia menyambut datangnya hujan ..
dibandingkan dirimu ...
tidak kah kau takut?
bahwa setiap paginya terlintas di pikiran daun itu untuk meninggalkanmu?
tidak kah kau cemas?
bahwa setiap malamnya mungkin ia pernah berencana untuk tidak menunggumu esok paginya?
bahkan tidak kah kau pernah membayangkan?
bahwa bisa saja saat kau berada di pelukannya, hanya raganya saja yang memelukmu namun jiwanya tidak
astaga,
mengapa dirimu merasa begitu berarti bagi daun itu?
memangnya siapa dirimu?,
ragamu hanya sementara di dunia,
dirimu hanyalah buah hati surya yang manja,
yang patuh kapan harus datang, dan tunduk kapan dirimu harus ikut pulang...
kehadiranmu bahkan sama seperti sepoi angin...tidak berarti,
saat kata daun itu dirimu memang sejuk memeluknya,
tahu kah kau betapa jauh menyejukkannya tetesan hujan?
tidak.
apa yang kau ketahui embun?
tahukah kau dengan siapa daun itu menghabiskan siang hingga senja?
bersamaku.
tahukah kau bagaimana daun itu bertahan di terik mentari atau lebatnya badai?
aku tahu.
aku yang selalu di sampingnya, bukan dirimu. aku yang selalu tahu kisahnya setiap hari, bukan dirimu. aku yang tahu bagaimana cerah hijau tubuhnya, bukan dirimu. bahkan aku yang tahu bagaimana pinggirnya mulai cokelat dan mengering, bukan dirimu.
apa kau tahu bagaimana daun itu menghabiskan malam?
menatap langit malam seperti orang bodoh,
bercerita tentangmu kepada bulan dan bintang seperti orang gila,
menantimu hingga fajar menyingsing seperti orang idiot,
seharusnya ia dapat sejenak memejamkan matanya, namun tidak ia lakukan karena dirimu.
memangnya siapa kau?
apa kau tahu bahwa itu adalah sekian kecil dari sekian banyak hal bodoh yang dilakukan daun itu demi dirimu?
apa yang kau tahu memangnya?
disaat daun itu terus menantimu dari fajar hingga senja,
kau sendiri sedang terlelap nyenyak dalam pelukan surya.
embun manja yang tidak mengenal pahitnya dunia sini, atau bahkan sulitnya perjuangan yang dilakukan daun itu.
demi dirimu...
daun itu tidak selamanya disana menunggumu embun
daun itu tidak selamanya disana menanti kehadiranmu embun
entah karena dia sudah layu dan akhirnya sudah jatuh ke tanah,
atau ternyata ia lebih bahagia menyambut datangnya hujan...
maka, seharusnya kau takut,
adakah alasanmu untuk merasa berarti bagi daun itu?
tidak.
adakah alasan daun itu untuk tetap bertahan menantimu?
seharusnya tidak.
-Suatu Pagi Kata Bunga Jingga Itu-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar