Embun…
Tahukah kau, seperti apa aku
melihat kita saat ini?
seperti hujan dan mentari yang
terpisah oleh sang waktu, yang hadirnya selalu ada disaat ada yang pergi, yang
hampir selalu ingin menebar senyum, yang hampir selalu tak pernah sempat untuk
saling menyapa, namun mereka saling mengagumi…
tahukah kau kasih, seperti apa
saat aku melihat kita bersama?
Seperti bunga merah dan jingga
itu,
Yang hampir tidak pernah henti
saling melempar ejekan, namun satu sama lain saling menjaga saat badai
menghadang,
Tahukah kau kasih, seperti apa
saat aku menikmati kebersamaan kita?
Seperti air di hulu yang sabar
melewati batu dan kerikil yang menghadangnya, dan seperti samudra yang pada
akhirnya setia menunggu datangnya air dari hulu,
kunang-kunang tetap beranjak
mendekati lampu jalan di ujung gang disana…
Ia tahu ia akan kepanasan saat
menyentuhnya, namun ia tidak pernah ragu bahwa lampu jalan itu akan
menghangatkannya…
kerlip bintang selalu hadir menemani
kami, ia tidak pernah meminta apapun, selain karena perasaan bahagianya yang
telah membagi pendar cahayanya bersama kami…
ya,
Seperti itulah hati yang aku
berikan kepadamu embunku…
Tidak pernah sedikit pun aku ragu
akan perasaan ini kepadamu,
Tidak pernah sedikit pun aku
meminta perasaan ini berbalas darimu…
Aku senang akan hadirnya malam,
karena saat aku menunggumu yang
sedang berada dalam pelukan surya
Aku yakin bahwa dirimu pun
tengah memandangku dalam batasan langit malam di atas sana,
malam membuat kita saling
merindu
sampai akhirnya fajar membuat
kita saling berbagi
ah ya… embunku,
tahukah kau seperti apa aku
mencintaimu?
Tidak…
Tidak lagi seperti hujan dan
mentari, tidak lagi seperti bunga merah dan jingga, bahkan tidak lagi seperti
kunang-kunang…
Ya.
Seperti ini…
Tanpa ada kata-kata yang akan
mampu merangkainya,
Karena perasaanku padamu terlalu
indah untuk digoreskan dalam kata-kata
Ya, aku hanya memiliki
kekurangan dan kelebihan dalam pelukanku…
Aku hanya memiliki keyakinanku,
dengan segala usaha dan perjuanganku…
Semuanya untuk membuatmu
bahagia dan bertahan di sisiku…
Ya embunku…
Cintaku memang sederhana yang
tidak mungkin sanggup dibandingkan dengan air dan samudra…
Namun kuyakini padamu embun…
Cintaku kuat aku pertahankan…
Bukan langit yang indah …
Bukan terbang ke awan …
Cukup genggam tanganku dan
berpijaklah…
Bukan langit yang indah …
Bukan terbang ke awan …
Cukup cinta yang mudah
dipertahankan…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar